Rabu, 07 November 2012

Materi Ajar Dasar-dasar Filsafat



MATERI AJAR
Nama Mata Kuliah                : Dasar-dasar Filsafat
Program Studi/Semester        : PAI/ PMI/ Ekonomi Syari’ah/ I
Dosen                                     : Dr. Hermawan, M.Ag.
BAB I
PENGANTAR FILSAFAT

A.     Pengertian Filsafat
1.      Arti Etimologi
         Kata filsafat berasal dari kata Yunani filosofia, yang berasal dari kata kerja filosofein yang berarti mencintai keibijaksanaan. Kata tersebut juga berasal dari kata Yunani philosophis yang berasal dari kata kerja philein yang berarti mencintai, atau philia yang berarti cinta, dan sophia yang berarti kearifan. Dari kata tersebut lahirlah kata Inggris philosophy yang biasanya diterjemahkan sebagai "cinta kearifan". Arti kata tersebut di atas belum memperhatikan makna yang sebenarnya dari kata filsafat, sebab pengertian "mencintai" belum memperlihatkan keaktifan seorang filosof untuk memperoleh kearifan atau kebijaksanaan itu. Menurut pengertian yang lazim berlaku di Timur (Tiongkok atau di India), seseorang disebut filosof bila dia telah mendapatkan atau telah meraih kebijaksanaan. Sedangkan menurut pengertian yang lazim berlaku di Barat, kata "mencintai" tidak perlu meraih kebijaksanaan, karena itu yang disebut filosof atau "orang bijaksana" mempunyai pengertian yang berbeda dengan pengertian di Timur.
a.            Konsep Plato
        Plato memberikan istilah dengan dialektika yang berarti seni berdiskusi. Dikatakan demikian karena, filsafat harus berlangsung sebagai upaya memberikan kritik terhadap berbagai pendapat yang berlaku. Kearifan atau pengertian intelektual yang diperoleh lewat proses pemeriksaan secara kritis ataupun dengan berdiskusi. Juga diartikan sebagai suatu penyelidikan terhadap sifat dasar yang pengha­bisan dari kenyataan. Karena seorang filosof akan selalu mencari sebab­sebab dan asas-asas yang penghabisan (terakhir) dari benda-benda.
b.            Konsep Cicero
I i
Cicero menyebutnya sebagai "ibu dari semua seni" (the mother of all the arts). Juga sebagai arts vitae.yaitu filsafat sebagai seni kehidupan.
c.             Konsep al-Farabi
Menurut al-farabi, filsafat adalah ilmu yang menyelidiki hakikat  yang sebenarnya dari segala yang ada (al-ilmu bit-maujudat bi ma hiya al-maujudat).


d.         Konsep Rene Descartes'
Menurut Rene Descartes, filsafat merupakan kumpulan segala pengetahuan, di mana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok pe­nyelidikannya.
e.         Konsep Francis Bacon
Menurut Francis Bacon, filsafat merupakan induk agung dari ilmu ilmu, dan filsafat menangani semua pengetahuan sebagai bi­dangnya.
f.           Konsep John Dewey
  Sebagai tokoh pragmatisme, John Dewey berpendapat bahwa filsafat haruslah dipandang sebagai suatu pengungkapan mengenai perjuangan manusia secara terus-menerus dalam upaya melakukan penyesuaian berbagai tradisi yang membentuk budi manusia terhadap kecenderungan-kecenderungan ilmiah dan cita-cita politik yang baru dan yang tidak sejalan dengan wewenang yang diakui. Tegasnya, filsafatsebagai suatu alat untuk membuat penyesuaian-penyesuaian di antara yang lama dan yang baru dalam suatu kebudayaan. Dari berbagai contoh di atas masih dapat ditambah lagi hingga berpuluh-puluh definisi (batasan pengertian filsafat). Kenyataannya, dari keragaman batasan pengertian filsafat tersebut melahirkan per­soalan tersendiri yang membingungkan. Atas dasar uraian di atas, maka kami memberikan suatu konsep bahwa filsafat mempunyai pengertian yang multidimensi. Filsafat Sebagai Ilmu
Dikatakan filsafat sebagai ilmu karena di dalam pengertian fil- safat mengandung empat pertanyaan ilmiah, yaitu bagaimanakah, mengapakah, ke manakah, dan apakah.
Pertanyaan bagaimana menanyakan sifat-sifat yang dapat ditang­kap atau yang tampak oleh indra. jawaban atau pengetahuan yang diperolehnya bersifat deskriptif (penggambaran). Pertanyaan mengapa menanyakan tentang sebab (asal mula) suatu objek. jawaban atau pengetahuan yang diperolehnya bersifat kausalitas (sebab akibat). Pertanyaan ke mana menanyakan apa yang terjadi di masa lampau, masa sekarang, dan masa yang akan datang. jawaban yang diperoleh ada tiga jenis pengetahuan, yaitu: pertama, pengetahuan yang timbul dari hal-hal yang selalu berulang-ulang (kebiasaan), yang nantinya pengetahuan tersebut dapat dijadikan sebagai pedoman. Ini dapat dijadikan dasar untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Kedua, pengetahuan yang timbul dari pedoman yang terkandung dalam, adat istiadat/kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Dalam hal initidak dipermasalahkan apakah pedoman tersebut selalu dipakai atau tidak. Pedoman yang selalu dipakai disebut hukum. Ketiga, pengeta­huan yang timbul dari pedoman yang dipakai (hukum) sebagai suatu hal yang dijadikan pegangan. Tegasnya, pengetahuan yang diperoleh dari jawaban ke manakah adalah pengetahuan yang bersifat normatif. Pertanyaan apakah yang menanyakan tentang hakikat atau inti mutlak dari suatu hal. Hakikat ini sifatnya sangat dalam (radix) dan tidak lagi bersifat empiris sehingga hanya dapat dimengerti oleh akal. jawaban atau pengetahuan yang diperolehnya ini kita akan dapat mengetahui hal-hal yang sifatnya sangat umum, universal, abstrak.
Dengan demikian, kalau ilmu-ilmu yang lain (selain filsafat) ber­gerak dari tidak tahu ke tahu, sedang ilmu filsafat bergerak dari tidak tahu ke tahu selanjutnya ke hakikat. Untuk mencari/memperoleh pengetahuan hakikat, haruslah dilakukan dengan abstraksi, yaitu suatu perbuatan akal untuk meng­hilangkan keadaan, sifat-sifat yang secara kebetulan (sifat-sifat yang tidak harus ada/aksidensia), sehingga akhirnya tinggal keadaan/sifat yang harus ada (mutlak) yaitu substansia, maka pengetahuan hakikat dapat diperolehnya.

B.        Filsafat Sebagai Cara Berfiikir
Berfikir secara filsafat dapat diartikan sebagai berpikir yang sangat mendalam sampai, maka pengetahuan hakikat, atau berpikir secara global/menyeluruh, atau berfikir yang dilihat dari berbagai sudut pandang pemikiran atau sudut pandang ilmu pengetahuan." Berpikir yangdernikian, ini sebagai upaya untuk dapat berpikir secara tepat dan benar serta dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.
1.   Harus sistematis
Pemikiran yang sistematis ini dimaksudkan untuk menyusun suatu pola pengetahuan yang rasional. sistematis adalah masing-masing unsur saling berkaitan satu dengan yang lain secara teratur dalam suatu keseluruhan. Sistematika pemikiran seorang filosof banyak dipengaruhi oleh keadaan dirinya, lingkungan, zamannya, pendidikan, dan sistem pemikiran yang mempengaruhi.
2.      Harus konsepsional
secara umum istilah konsepsional berkaitan dengan ide (gam bar) atau gambaran yang melekat pada akal pikiran yang berada dalam intelektual. Gambaran tersebut mempunyaii bentuk tangkapan sesuai dengan riilnya. Sehingga maksud darii 'konsepsional' tersebut sebagai upaya untuk menyusun suatu bagan yang terkonsepsi (jelas). Karena berpikir secara filsafat sebenarnya berpikir tentang hal dan prosesnya.
3.   Harus koheren
Koheren atau runtut adalah unsur-unsurnya tidak boleh mengan­dung uraian-uraian yang bertentangan satu sama lain. Koheren atau runtut di dalamnya memuat suatu kebenaran logis. Sebalik­nya, apabila suatu uraian yang di dalamnya tidak memuat kebe­naran logis, uraian tersebut dikatakan sebagai uraian yang tidak koheren/runtut.
4.   Harus rasional
Maksud rasional adalah unsur-unsurnya berhubungan secaralogis. Artinya, pemikiran filsafat harus diuraikan dalam bentuk yang logis, yaitu suatu bentuk kebenaran yang mempunyai kai­dah-kaidah berpikir (logika).
5.   Harus sinoptik
Sinoptik artinya pemikiran filsafat harus melihat hal-hal secara menyeluruh atau dalam kebersamaan secara integral.
6.   Harus mengarah kepada pandangan dunia
Maksudnya adalah pemikiran filsafat sebagai upaya untuk me­mahami semua realitas kehidupan dengan jalan menyusun suatu pandangan (hidup) dunia, termasuk di dalamnya menerangkan tentang dunia dan semua hal yang berada di dalamnya (dunia).

C.     Filsafat Sebagai Pandangan Hidup
Diartikan sebagai pandangan hidup karena filsafat pada haki­katnya bersumber pada hakikat kodrat pribadi manusia (sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan makhluk Tuhan). Hal ini berarti bahwa filsafat mendasarkan pada penjelmaan manusia secara total dan sentral sesuai dengan hakikat manusia sebagai makhluk mono­dualisme (manusia secara kodrat terdiri dari jiwa dan raga). Manusia secara total (menyeluruh) dan sentral di dalamnya memuat sekaligus sebagai sumber penjelmaan bermacam-macam filsafat sebagai berikut.
a.        Manusia dengan unsur raganya dapat melahirkan filsafat biologi. yang semakin lugs. Hal itu dapat membantu penyelesaian ma­salah yang selalu kita hadapi dengan cara yang lebih bijaksana.
b.       Dasar semua tindakan adalah ide. Sesungguhnya filsafat di dalam­nya memuat ide-ide yang fundamental. Ide-ide itulah yang akan membawa manusia ke arah suatu kemampuan untuk merentang kesadarannya dalam segala tindakannya, sehingga manusia akan dapat lebih hidup, lebih tanggap (peka) terhadap diri dan ling­kungannya, lebih sadar terhadap hak dan kewajibannya.
c.        Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kita semakin ditantang dengan memberikan alternatifnya. Di satu sisi kita berhadapan dengan kemajuan teknologi beserta dampak negatifnya, perubahan demikian cepatnya, pergeseran tata nilai, dan akhirnya kita akan semakin jauh dari tata nilai dan moral. Di sisi lainnya, apabila kita tidak berani menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, akhirnya kita akan menjadi manusia "terbelakang". Untuk itu kita berusaha untuk mengejar kemajuan tersebut dengan segala upaya. Dengan se­makin jauhnya kita dengan tata nilai dan moral, akibatnya banyak ilmuwan kehilangan bobot kebijaksanaannya. Dengan demikian, apa yang dihasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi bersamaan itu pula manusia kehilangan pendirian dan dih ui kebingungan dan keraguan (skeptis). Tinggal menunggu mal etaka datang menghancurkan kehidupan manusia.
Mengingat hal-hal tersebut di atas, kita sangat memerlukan suatu Emu yang sifatnya memberikan pengarahan (ilmu pengarahan) atau Bence of direction. Dengan ilmu tersebut, manusia akan dibekali suatu kebijaksanaan yang di dalamnya memuat nilai-nilai kehidupan yang sangat diperlukan oleh umat manusia. Hanya ilmu filsafatlah yang dapat diharapkan mampu memberi manusia suatu integrasi dalam membantu mendekatkan manusia pada nilai-nilai kehidupan untuk mengetahui mana yang pantas kita tolak, mana yang pantas kita se tujui, mana yang pantas kita ambit sehingga dapat memberikan makna kehidupan.
Kegunaan filsafat ini sering muncul bagi para pemula belajar filsafat. Masalah tersebut harus dituntaskan. Selagi masalah tersebut masih berada dalam diri seorang yang sedang belajar filsafat, maka orang tersebut akan selalu mendapatkan keraguan terhadap filsafat. Apakah filsafat bermanfaat bagi saya?
Filsafat berguna bagi manusia apabila filsafat tersebut mem­perlihatkan kemajuan yang positif bagi kehidupan manusia.

D.       Metode-metode Filsafat Bagaimana Seorang Filosof Bekerja?
Para ahli pikir (filosof dalam melaksanakan pekerjaannya tidak berbeda dengan cara bekerjanya sebuah pabrik. Bekerjanya seorang ahli pikir (filosof) adalah berpikir, yaitu mengadakan kegiatan ke­filsafatan, sedangkan bekerjanya sebuah pabrik menghasilkan proses produksi.
Kegiatan berpikir atau kegiatan kefilsafatan sesungguhnya berupa "perenungan". Perenungan tersebut untuk menyusun suatu bagan yang konsepsional, tidak boleh memuat pernyataan-pernyataan yang sifatnya kontradiktif, hubungan bagian yang satu dengan yang lainnya harus logis, dan harus mampu memberi penjelasan tentang pandangan dunia. Dengan kata lain, kegiatan kefilsafatan berarti bagaimana seorang ahli pikir memulai bekerja — proses bekerjanya — sampai pada suatu kesimpulan. Sebagai perangkat berpikir adalah analisis dan sintesis. Dalam menganalisis dan mensintesis para ahli pikir menggunakan alas pemikiran berupa logika, deduksi, analogi, dan komparasi.
1.   Analisis
Pengertian analisis dalam kegiatan filsafat adalah rincian istilah­imM atau pernyataan-pernyataan dalam bagian-bagiannya sehingga bona dapat melakukan pemeriksaan atas makna yang terkandung. Sdogai contoh adalah perkataan "nyad'di bawah ini.
– Apakah sebuah meja itu sesuatu yang nyata? – Apakah impian itu sesuatu yang nyata?
Akksud analisis adalah melakukan pemeriksaan secara konsepsional midWap makna dan istilah yang kita pergunakan dalam pernyataan !mg kita buat. Dengan analisis, kita akan memperoleh makna yang boru, dan menguji istilah-istilah dengan berbagai contoh.
2.    Sintesis
Sintesis sebagai upaya mencari kesatuan di dalam keragaman. maksudnya, mengumpulkan suatu pengetahuan yang dapat diperoleh. Karena dalam menyusun sistem pemikiran seorang ahli pikir (filosof) mendasarkan pikirannya pada sejumlah besar bahan yang dicari. Lebih banyak keterangan yang diperoleh, hasilnya akan lebih baik dan lebih akurat.
Logika adalah ilmu pengetahuan tentang penyimpulan yang lurus serta menguraikan tentang aturan-aturan membicarakan penarikan kesimpulan bukan dari pernyataan yang umum, melainkan dari pernyataan yang khusus. Kesimpulannya bersifat probabilitas berdasarkan atas pernyataan yang telah diajukan.
(Logika) deduksi membicarakan cara untuk mencapai suatu kesimpulan dengan terlebih dahulu mengajukan pernyataan mengenai semua/sejumlah di antara suatu kelompok barang tertentu.
Analogi dan komparasi merupakan upaya, untuk mencapai suatu kesimpulan dengan menggantikan dengan apa yang kita cobs untuk membuktikannya dengan sesuatu yang serupa, dengan hal. tersebut. Menyimpulkan kembali apa yang mengawali penal~lran kita.
Dalam bidang filsafat terdapat beberapa metode. Metode ber­asal dari kata meta-hodos, artinya menuju, melalui cara, jalan. Metode Bering diartikan sebagai jalan berpikir dalam bidang keilmuan. Metode dalam bidang filsafat adalah sebagai berikut.
a.          Metode Kritis, yaitu dengan menganalisis istilah dan pendapat, dengan mengajukan pertanyaan secara terus-menerus sampai ha­kikat yang ditanyakan.
b.         Metode intuitif, yaitu dengan melakukan introspeksi intuitif, dengan memakai simbol-simbol.
c.          Metode analisis abstraksi, yaitu dengan jalan memisah-misah-, kan atau menganalisis di dalam angan-angan (di dalam pikiran) hingga sampai pada hakikat (ditemukan jawaban).

E.     Sejarah Kelahiran Filsafat
Berbicara tentang kelahiran dan perkembangan filsafat pada awal kelahirannya tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan (ilmu) pengetahuan yang munculnya pada masa peradaban Kuno (masa Yunani).
Pada tahun 2000 SM bangsa Babylon yang hidup di lembah Sungai Nil (Mesir) dan Sungai Efrat, telah mengenal alas pengukur berat, tabel bilangan berpangkat, tabel perkalian dengan menggunakan sepuluh jari.
Piramida yang merupakan salah satu keajaiban dunia itu, yang ternyeta pembuatannya menerapkan geometri dan matematika, me­nunjukkan cara berpikirnya sudah tinggi. Selain itu, mereka pun sudah dapat mengadakan kegiatan pengamatan benda-benda langit, baik bintang, bulan, matahari sehingga dapat meramalkan gerhana baik gerhana bulan maupun gerhana matahari. Ternyata ilmu yang mereka pakai dewasa ini disebut astronomi.
Di India dan Cina waktu itu telah ditemukan cara pembuatan terms dan kompas (sebagai penunjuk arch).
1.      Masa Yunani
Yunani terletak di Asia Kecil. Kehidupan penduduknya sebagai nelayan dan pedagang, sebab sebagian besar penduduknya tinggal di daerah pantai, sehingga mereka dapat menguasai jalur perdagangan di Laut Tengah.
Kebiasaan mereka hidup di alam bebas sebagai nelayan itulah mewarnai kepercayaan yang dianutnya,- yaitu berdasarkan kekuatan alam sehingga` beranggapan bahwa hubungan manusia dengan Sang Mafia Pencipta bersifat formalitas. Artinya, kedudukan Tuhan terpisah dengan kehidupan manusia. -'
Kepercayaan, yang bersifat formalitas (natural religion) tidak memberikan kebebasan kepada manusia, ini ditentang oleh Homerus" dengan dua buah karyanya yang terkenal, yaitu Iliac dan Odyseus. Kedua karya Homerus itu memuat nilai-nilai yang tinggi dan bersifat edukatif. Sedemikian besar peranan karya Homerus, sama kedudukan­nya seperti wayang purwa di Jawa. Akibatnya masyarakat lebih kritis dan rasional.
Pada abad ke-6 SM, bermunculan para pemikir yang keperca­yaannya bersifat rasional (cultural religion) menimbulkan pergeseran. Tuhan tidak lagi terpisah dengan manusia, melainkan justru menyatu dengan kehidupan manusia. Sistem kepercayaan yang natural religious berubah menjadi sistem cultural religious.
Dalam sistem kepercayaan natural religious ini manusia terikat oleh tradisionalisme. Sedangkan dalam sistem kepercayaan kultural religius ini memungkinkan manusia mengembangkan potensi dan budayanya dengan bebas, sekaligus dapat mengembangkan pemikiran­nya untuk menghadapi dan memecahkan berbagai misteri kehidupan/ alam dengan akal pikiran.
Ahli pikir pertama kali yang muncul adalah Thales (± 625 - 545 SM) yang berhasil mengembangkan geometri dan matematika; Liokippos dan Democritos mengembangkan teori materi; Hipocrates mengembangkan ilmu kedokteran, Eudid mengembangkan geometri deduktif; Socrates mengembangkan teori tentang moral; Plato me­ngembangkan teori tentang ide; Aristoteles mengembangkan teori yang menyangkut dunia dan bends dan berhasil mengumpulkan data 500 jenis binatang (ilmu biologi). 6uatu keberhasilan yang luar biasa dari Aristoteles adalah menemukan sistem pengaturan pemikiran (logika formal) yang sampai sekarang masih dikenal.
Para ahli pikir Yunani Kuno ini mencoba membuat konsep ten-tang asal mula alam walaupun sebelumnya sudah ads tentang konsep tersebut. Akan tetapi, konsepnya bersifat mitos yaitu mite kosmogonis (tentang asal usul alam semesta) dan mite kosmologis (tentang asal usul Berta sifat kejadian-kejadian dalam alam semesta) sehingga konsep mereka sebagai mencari arche (asal mula) slam semesta. Hal itu disebutnya sebagai filosof alam.
Karena arah pemikiran filsafatnya pada alam semesta, corak pemikirannya disebut kosmosentris. Sementara itu, Para ahli pikir, seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles yang hidup, pada mass Yunani Klasik arah pemikirannya pada manusia, maka corak pemikiran fil­safatnya disebut antroposentris. Hal ini disebabkan arah pemikiran para ahli pikir Yunani Klasik tersebut memasukkan manusia sebagai subjek yang harus bertanggung jawab terhadap segala tindakannya.
2.      Masa Abad Pertengahan
Masa ini diawali dengan lahirnya filsafat Eropa. Sebagaimana hal­nya dengan filsafat Yunani yang dipengaruhi oleh kepercayaan, maka t atau pemikiran pada abad pertengahan pun dipengaruhi oleh rcayaan Kristen. Artinya, pemikiran filsafat abad pertengahan Adominasi oleh agama. Pemecahan semua persoalan selalu didasarkan ms dogma agama, sehingga corak pemikiran kefilsafatannya bersifat amsentris.
Baru pada abad ke-6 Masehi, setelah mendapatkan dukungan dari Karel Agung," maka didirikanlah sekolah-sekolah yang memberi p*aran gramatika, dialektika, geometri, aritmatika, astronomi, dan musik. Keadaan yang demikian akan mendorong perkembangan pemi­kiran filsafat pada abad ke-13 yang ditandai berdirinya universitas­universitas dan ordo-ordo. Dalam ordo-ordo inilah mereka meng­abdikan dirinya untuk kemajuan ilmu dan agama, seperti Anselmus (1033-1109), Abaelardus (1079-1143), Thomas Aquinas (1225-1274).
Di kalangan Para ahli pikir Islam (periode filsafat Skolastik Islam) muncul: Al-Kindi, Al-RrAbi, Ibnu Sina, Al-Gazali, Ibnu Bajah, Ibnu Tufail, Ibnu Rusyd. Periode Skolastik Islam ini berlangsung tahun 850-1200. Pada masa itulah kejayaan Islam berlangsung dan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Akan tetapi, setelah jatuhnya kerajaan Islam di Granada di Spanyol tahun 1492 mulailah kekuasaan politik Barat menjarah ke Timur.11 Suatu prestasi yang paling besar dalam kegiatan ilmu pengetahuan terutama dalam bidang filsafat. Di gini mereka merupakan masa rantai yang mentransfer filsafat Yunani, sebagaimana yang dilakukan oleh sarjana-sarjana Islam di Timer terhadap Eropa dengan menambah pikiran-pikiran Islam sen­diri. Para filosof Islam sendiri sebagian menganggap bahwa filsafat Aristoteles benar, Plato dan Alquran benar. Mereka mengadakan perpaduan dan sinkretisme antara agama dan filsafat. Kemudian pi­kiran-pikiran ini masuk ke Eropa yang merupakan sumbangan Islam yang paling besar, yang besar pengaruhnya terhadap ilmu pengetahuan dan pemikiran filsafat terutama dalam bidang teologi dan ilmu pengetahuan alam.11 Peralihan dari abad pertengahan ke abad modern dalam sejarah filsafat disebut sebagai masa peralihan (masa transisi), yaitu munculnya Renaissance dan Humanisme, yang berlangsung pada abad 15-16. Munculnya Renaissance dan Humanisme inilah yang mengawali masa abad modern. Mulai zaman modern inilah peranan ilmu alam kodrat •sangat menonjol sehingga akibatnya pemikiran filsafat semakin dianggap sebagai pelayan teologi, yaitu sebagai suatu sarana untuk menetapkan kebenaran-kebenaran mengenai Tuhan yang dapat dicapai oleh akal manusia.
3.  Masa Abad Modern
Pada masa abad modern ini pemikiran filsafat berhasil menem­patkan manusia pada tempat yang sentral dalam pandangan kehi­dupan sehingga corak pemikirannya antroposentris, yaitu pemikiran filsafatnya mendasarkan pada akal pikir dan pengalaman.
Di atas telah dikemukakan bahwa munculnya Renaissance dan Humanisme sebagai awal masa abad modern di mana para ahli (filo­soO menjadi pelopor perkembangan filsafat (kalau pada masa abad pertengahan yang menjadi pelopor perkembangan filsafat adalah para pemuka agama). Pemikiran filsafat masa abad modern ini berusaha meletakkan dasar-dasar bagi metode induksi secara modern, Berta membuka sistematika yang sifatnya logis-ilmiah. Pemikiran filsafat diupayakan lebih bersifat praktis, artinya pemikiran filsafat diarahkan pada upaya manusia agar dapat menguasai lingkungan alam, dengan menggunakan berbagai penemuan ilmiah.
Karena semakin pesatnya orang menggunakan metode induksi/ eksperimental dalam berbagai penelitian ilmiah, akibatnya perkem­bangan pemikiran filsafat mulai tertinggal oleh perkembangan ilmu­ilmu alam kodrat (natural sciences). Rene Descartes (1596-1650) sebagai bapak filsafat modern yang berhasil melahirkan suatu konsep dari perpaduan antara metode ilmu alam dengan ilmu pasti ke dalam pemi­kiran filsafat. Upaya ini dimaksudkan, agar kebenaran dan kenyataan filsafat jugs sebagai kebenaran dan kenyataan yang jelas dan terang.
Pada abad ke-18, perkembangan pemikiran filsafat mengarah pada filsafat ilmu pengetahuan, di mana pemikiran filsafat diisi dengan upaya manusia, bagaimana cara/sarana apa yang dipakai untuk mencari kebenaran dan kenyataan. Tokoh-tokohnya antara lain George Berkeley (1685-1753), David Hume (1711-1776), Rousseau (1722-1778).
Di jerman muncul Christian Wolft (1679-1754) dan Immanuel Kant (1724-1804), yang mengupayakan agar filsafat menjadi ilmu pengetahuan yang pasti dan berguna, yaitu dengan cara membentuk pengertian-pengertian yang jelas dan bukti yang kuat.
Abad ke-19, perkembangan pemikiran filsafat terpecah belch. Pemikiran filsafat pada scat itu telah mampu membentuk suatu kepribadian tiap-tiap bangsa dengan pengertian dan caranya sendiri. Ada filsafat Amerika, filsafat Prancis, filsafat Inggris, filsafat Jerman. Tokoh-tokohnya. adalah: Hegel (1770-1831), Karl Marx (1818-1883), August Comte (1798-1857), JS. Mill (1806-1873), John Dewey (1858­1952).
Akhirnya, dengan munculnya pemikiran filsafat yang bermacam­macam ini, berakibat tidak terdapat lagi pemikiran filsafat yang mendominasi. Giliran selanjutnya, lahirlah filsafat Kontemporer atau filsafat dewasa ini.
4.      Masa Abad Dewasa Ini (Filsafat Abad ke-20)
Filsafat Dewasa Ini atau Filsafat Abad ke-20 juga. disebut Filsafat Kontemporer. Ciri khas pemikiran filsafat ini adalah desentralisasi manusia karena pemikiran filsafat abad ke-20 ini memberikan per­hatian yang khusus kepada bidang bahasa dan etika sosial.
Dalam bidang bahasa terdapat pokok-pokok masalah, yaitu arti kata-kata dan arti pernyataan-pernyataan. Masalah ini muncul karena realitas sekarang ini banyak bermunculan berbagai istilah yang cara pemakaiannya Bering tidak dipikirkan secara mendalam sehingga menimbulkan tafsir yang berbeda-beds (bermakna ganda). Maka, timbullah filsafat analitika, yang di dalamnya membahas tentang cars berpikir untuk mengatur pemakaian kata-kata/istilah-istilah yang menimbulkan kerancuan, sekaligus dapat menunjukkan bahaya­bahaya yang terdapat di dalamnya. Karena bahasa sebagai objek ter­penting dalam pemikiran filsafat, pars ahli pikir menyebutnya sebagai logosentris.
Bidang etika sosial memuat pokok-pokok masalah apakahyang bmdak kita perbuat di dalam masyarakat dewasa ini.
Kemudian, pada paruh pertama abad ke-20 ini timbul aliran­aliran kefilsafatan, seperti Neo-Thomisme, Neo-Kantianisme, Neo­Hegelianisme, Kritika Ilmu, Historisme, Irasionalisme, Neo-Vitalisme, Spiritualisme, Neo-Positivisme. Aliran-aliran di atas sampai sekarang
tinggal sedikit yang masih bertahan. Sementara itu, pada awal belahan akhir abad ke-20 muncul aliran-aliran kefilsafatan yang lebih dapat memberikan corak pemikiran dewasa ini, seperti Filsafat Analitik, Fisafat Eksistensi, Strukturalisme, Kritika Sosial.
Orang Yunani yang hidup pada abad ke-6 SM mempunyai sis­sem kepercayaan, bahwa segala sesuatunya harus diterima sebagai suatu kebenaran yang bersumber pada mitos atau dongeng-dongeng. Artinya, suatu kebenaran lewat akal pikir (logos) tidak berlaku, yang berlaku hanya suatu kebenaran yang bersumber pada mitos (dongeng­dongeng).
Setelah pada abad ke-6 SM muncul sejumlah ahli pikir yang menentang adanya mitos. Mereka menginginkan pertanyaan tentang misteri alam semesta ini jawabannya dapat diterima akal (rasional). Keadaan yang demikian ini sebagai suatu demitologi, artinya suatu kebangkitan pemikiran untuk menggunakan akal-pikir dan mening­Okan hal-hal yang sifatnya mitologi. Upaya pars ahli pikir untuk mengarahkan pada suatu kebebasan berpikir ini menyebabkan banyak orang yang mencoba membuat suatu konsep yang dilandasi kekuatan akal pikir secara mumi. Maka, timbullah peristiwa ajaib The Greek Mira-de, yang nantinya dapat dijadikan sebagai landasan peradaban dunia.
Berikut ini terdapat tiga faktor yang menjadikan filsafat Yunani lahir.
a.       Bangsa Yunani yang kaya akan mitos (dongeng), di mana mitos dianggap sebagai awal dari upaya orang untuk mengetahui atau mengerti. Mitos-mitos tersebut kemudian disusun secara sistematis yang untuk sementara kelihatan rasional sehingga muncul mitos selektif dan rasional, seperti syair karya Homerus, Orpheus dan lain-lain.
b.      Karya Sastra Yunani yang dapat dianggap sebagai pendorong kelahiran filsuf Yunani, karya Homerus mempunyai kedudukan yang sangat penting untuk pedoman hidup orang-orang Yunani yang didalamnya mengandung nilai-niai edukatif.
c.        Pengaruh ilmu-ilmu pengetahuan yang berasal dari Babylonia (Mesir) di Lembah Sungai Nil. Kemudian, berkat kemampuan dan kecakapannya, ilmu-ilmu tersebut dikembangkan sehingga me­reka mempelajarinya tidak didasarkan pada aspek praktisnya raja, tetapi juga aspek teoretis kreatif
Dengan adanya ketiga faktor tersebut, kedudukan mitos digeser oleh logos (akal), sehingga setelah pergeseran tersebut filsafat lahir.
Pengertian filsafat pada saat itu masih berwujud ilmu pengeta­huan yang masih global, sehingga nantinya satu demi satu berkembang dan memisahkan diri menjadi ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri.
Zaman Yunani terbagi menjadi dug periode, yaitu periode Yunani Kuno dan periode Yunani Klasik. Periode Yunani Kuno diisi oleh ahli pikir alam (Thales, Anaximandros, Pythagoras, Xenophanes, dan Democritos). Sedangkan pada periode Yunani Klasik diisi oleh ahli pikir seperti Socrates, Plato, Aristoteles.

A.        Yunani Kuno
Periode Yunani Kuno ini lazim disebut periode filsafat alam. Dikatakan demikian, karena pada periode ini ditandai dengan mun­culnya pare ahli pikir alam, di mana arch dan perhatian pemikirannya kepada apa yang diamati di se-kitarnya. Mereka membuat pernyataan­pernyataan tentang gejala alam yang bersifat filsafati (berdasarkan aka' pikir) dan tidak berdasarkan pada mitos. Mereka mencari asas yang pertama dari alam semesta (arche) yang sifatnya mutlak, yang berada di belakang segala sesuatu yang serba berubah.
Para pemikir filsafat Yunani yang pertama berasal dari Miletos, sebuah kota perantauan Yunani yang terletak di pesisir Asia Kecil. Me­reka kagum terhadap alam yang penuh nuansa dan ritue dan berusaha mencari jawaban atas apa yang ada di belakang semua misteri itu.'
1.      Thales (625-545 SM)
Nama Thales muncul atas penuturan sejarawan Herodotus pada abad ke-5 SM. Thales sebagai salah satu dari tujuh orang bijaksana (Seven Wise Men of Greece). Aristoteles memberikan gelar The Father of Philosophy,2 juga menjadi penasihat teknis ke-12 kota Ionia. Salah satu jasanya yang besar adalah meramal gerhana matahari pada tahun 585 SM.
Thales mengembangkan filsafat alam kosmologi yang memper­tanyakan asal mula, sifat dasar, dan struktur komposisi alam semesta. Menurut pendapatnya, semua yang berasal dari air sebagai materi dasar kosmis. Sebagai ilmuwan pada masa itu is mempelajari magne­tisme dan listrik yang merupakan pokok soal fisika. Ia juga mengem­bangkan astronomi dan matematika dengan mengemukakan pendapat bahwa bulan bersinar karena memantulkan cahaya matahari, meng­hitung terjadinya gerhana matahari, dan bahwa kedua sudut alas dari suatu segi tiga sama kaki sama besarnya. Dengan demikian, Thales merupakan ahli matematika yang pertama dan juga sebagai the father of deductive reasoning (bapak penalaran deduktif).
Dari pendapat itu dapat kita artikan bahwa apa yang disebur sebagai arche (asas pertama dari alam semesta) adalah air. Katanya, semua berasal dari air, dan semuanya kembali menjadi air. Bahwa bumi terletak di atas air, dan bumi merupakan bahan yang muncu: dari air dan terapung di atasnya.
Dalam sejarah matematika, Thales dianggap sebagai pelopor geometri abstrak yang didasarkan kepada petunjuk pengukur banjir, yang implementasinya dengan membuktikan dalil-dalil geometri yang salah satunya bahwa kedua sudut alas dari suatu segi tiga sama kaki adalah sama besarnya.
Walaupun pandangan-pandangan Thales banyak yang kurang jelas, akan tetapi pendapatnya merupakan percobaan pertama yang masih sangat sederhana dengan menggunakan rasio (akal pikir).
2.      Anaximandros (40-546 SM)
  Ia adalah orang pertama yang mengarang suatu traktat dalam kesusasteraan Yunani, dan berjasa dalam bidang astronomi, geografi. Jadi, ia merupakan orang pertama yang membuat pets bumi' Ia berhasil memimpin sekelompok orang yang membuat kota barn di Apollonia, Yunani.
  Pemikirannya, dalam memberikan pendapat tentang arche (asas pertama alam semesta), ia tidak menunjuk pada'salah satu unsur yang dapat diamati oleh indra, tetapi ia menunjuk dan memilih pada sesuatu yang tidak dapat diamati indra, yaitu to apeiron,5 sebagai sesuatu yang ak terbatas, abad sifatnya, tidak--berubah-ubah, ada pada segala­ dan sesuatu yang paling dalam. Alasannya, apabila tentang tersebut ia menunjuk pada salah satu unsur, maka unsur terse­akan mempunyai sifat yang dapat bergerak sesuai dengan sifatnya a tidak ada tempat bagi unsur yang berlawanan 6
Pendapatnya yang lain, bumi seperti silinder, lebarnya tiga kali besar dari tingginya. Bumi tidak terletak atau bersandar pada to pun. Mengapa bumi tidak jatuh? Karena bumi berada pada jagad raya. Pemikirannya ini harus kita pandang sebagai titik yang mengherankan bagi orang-orang modern.
3.      Pythagoras ( ± 572 - 497 SM)
Mengenai riwayat hidupnya, ia dilahirkan di Pulau Samos, Ionia. Tanggal dan tahunnya tidak diketahui secara pasti. Ia juga tidak meninggalkan tulisan-tulisan sehingga apa yang diketahui tentang Pythagoras diperlukan kesaksian-kesaksian. Mqurut Aristoxenos seorang murid Aristoteles Pythagoras pindah ke kota Kroton, Italia Selatan karena tidak setuju dengan pemerintahan Polykrates yang bersifat tirani. Di kota ini ia mendirikan sekolah agama, selama 20 tahun ia di Kroton, kemudian pindah ke Metapontion dan meninggal di kota ini.'
Pemikirannya, substansi dari semua benda adalah bilangan, dan segala gejala alam merupakan pengungkapan indrawi dari perbanding­an-perbandingan matematis. Bilangan merupakan inti sari dan dasar pokok dari sifat-sifat benda (number rules the universe = bilangan memerintah jagat raya). Ia juga mengembangkan pokok coal mate­matik yang termasuk teori bilangan. Umpamanya, dikembangkannya susunan bilangan-bilangan yang mempunyai bentuk geometric.
Pemikirannya tentang bilangan, ia mengemukakan bahwa setiap bilangan dasar dari 1 sampai 10 mempunyai kekuatan dan arti sendiri­sendiri. Satu adalah asal mula segala sesuatu sepuluh, dan sepuluh adalah bilangan sempurna. Bilangan gasal (ganjil) lebih sempurna daripada bilangan genap dan identik dengan finite (terbatas). Salah seorang penganut Pythagoras mengatakan bahwa Tuhan adalah bilangan tujuh, jiwa itu bilangan enam, badan itu bilangan empat.
Pythagoraslah yang mengatakan pertama kali bahwa dam semesta itu merupakan satu keseluruhan yang teratur, sesuatu yang harmonis seperti dalam musik. Keharmonisan dapat tercapai dengan mengga­bungkan hal-hal yang berlawanan, seperti:
a.    terbatas - tak terbatas;
b.   ganjil - genap;
c.    satu — banyak;
d.   laki-laki - perempuan;
e.    bujur sangkar - empat persegi panjang;
f.     diam - gerak;
g.    lurus - bengkok;
h.    baik - buruk;
i.      terang - gelap;
j.     kanan - kiri.1
Menurut Pythagoras, kearifan yang sesungguhnya hanya dimiliki oleli Tuhan saja, oleh karenanya ia tidak mau disebut sebagai prang arif seperti Thales, akan tetapi menyebut dirinya sebagai philosophos yaitu pencipta kearifan. Istilah philosophos ini kemudian menjadi philosophic yang terjemahannya secara harfiah adalah cinta kearifan atau kebijaksanaan. Sampai sekarang secara etimologis dan singkat sederhana filsafat dapat diartikan sebagai cinta kearifan atau kebijak­coman (love of wisdom).'
Sebagai seorang yang ahli matematika abadi ia dengan dalil­nyx jurrilah dari luas dua sisi sebuah segi tiga siku-siku adalah sama dengan luas sisi miringnya (i + bI = d).
4.      Xenophanes (570 - ? SM)
Ia lahir di Xolophon, Asia Kecil. Waktu berumur 25 tahun ia mmgembara ke Yunani. Ia lebih tepat dikatakan sebagai penyair dari­pada ahli pikir (filosoo, hanya karena ia mempunyai daya nalar yang bitis dan mempelajari pemikiran-pemikiran filsafat pada saat itu. N2manya menjadi terkenal karena untuk pertama kah melontarkan anggapan bahwa adanya konflik antara pemikiran filsafat (rasio) dengan pemikiran mitos.
Pendapatnya yang termuat dalam kritik terhadap Homerus dan Herodotus, ia membantah adanya antropomorfisme Tuhan-Tuhan, *tu Tuhan digambarkan sebagai (seakan-akan) manusia. Karena manusia selalu mempunyai kecenderungan berpikir, Tuhan pun se­perti manusia yang bersuara, berpakaian, dan lain-lainnya. Ia juga membantah bahwa Tuhan bersifat kekal dan tidak mempunyai per­mulaan. la juga menolak anggapan bahwa Tuhan mempunyai jumlah yang banyak dan menekan atas keesaan Tuhan. Kritik ini ditujukan kepada anggapan-anggapan lama yang berdasar pada mitologi.
5.      Heraditos (535 - 475 SM)
Ia lahir di Ephesus, sebuah kota perantauan di Asia Kecil, dan merupakan kawan dari Pythagoras. dan Xenophanes, akan tetapi lebih tug. Ia mendapat julukan si gelap, karena untuk menelusuri gerak pikirannya sangat sulit. Hanya dengan melihat fragmen-fragmennya, ia mempunyai kesan berhati tinggi dan sombong sehingga ia mudah mencela kebanyakan manusia untuk mengatakan jahat dan bodoh, juga mencela orang-orang terkemuka di negeri Yunani.
Pemikiran filsafatnya terkenal dengan filsafat menjadi. Ia me­ngemukakan bahwa segala sesuatunya (yang ada itu) sedang menjadi dan selalu berubah. Ucapannya yang terkenal: Panto rhei kai uden menci, artinya segala sesuatunya mengalir bagaikan arus sungai dan tidak satu orang pun dapat masuk ke sungai yang sama dua kali. Alasannya, karena air sungai yang pertama telah mengalir, berganti dengan air yang berada di belakangnya. Demikian juga dengan segala yang ada, tidak ada yang tetap, semuanya berubah. Akhirnya, dikatakan bahwa hakikat segala sesuatu adalah menjadi, maka filsafatnya dikatakan filsafat menjadi.
Tentang pengetahuan pun demikian, yaitu bahwa pengetahuan yang sejati adalah pengetahuan yang berubah-ubah sehingga apa yang disebutnya sebagai realitas merupakan sesuatu yang khusus, jumlahnya banyak, dan sifatnya dinamis. Realitas merupakan dunia materi, di mana pada setiap realitas berbeda satu dengan yang lain­nya, dan tidak ada hal yang tetap berlaku umum.11
Pemikiran tentang benda, ia mengemukakan bahwa tiap benda terdiri dari hal-hal yang sifatnya berlawanan atau bertentangan, dua ekstrem yang soling bertolak belakang, walaupun demikian, tetap membentuk kesatuan. Yang satu adalah banyak, dan yang banyak adalah satu. Hal ini berarti segala hal yang ada mengandung dalam dirinya pertentangan dari dirinya sendiri. Akan tetapi, justru perten­tangan itulah yang mencipta suatu kesatuan, keharmonisan. Setiap pertentangan akan mencipta keadilan, seperti: musim dingin dan
im panas, siang dan malam, bangun dan tidur, cinta dan benci, tua dan muda, dan sebagainya.11 Dengan kata lain, musim panas ada  ada musim dingin. Kesehatan sebagai sesuatu yang penting karena ada penyakit. Kalau dirumuskan secara (dengan) terminologi modern bahwa segala sesuatu merupakan sintesis dari hal-hal yang bersifat kontradiktif.
Heraditos yang mengemukakan pendapatnya bahwa segala yang ada selalu berubah dan sedang menjadi, ia mempercayai bahwa arche (asas yang pertama dari alam semesta) adalah api. Api dianggapnya sebagai lambang perubahan dan kesatuan. Api mempunyai sifat me­musnahkan segala yang ada, dan mengubahnya sesuatu itu menjadi abu atau asap. Walaupun sesuatu itu apabila dibakar menjadi abu mau asap, toh adanya api tetap ada. Segala sesuatunya berasal dari api, dan akan kembali ke api.
Menurut pendapatnya, di dalam arche terkandung sesuatu yang hidup (seperti roh) yang disebutnya sebagai logos (akal atau semacam wahyu). Logos inilah yang menguasai dan sekaligus mengendalikan brberadaan segala sesuatu. Hidup manusia akan selamat apabila se­suai dengan logos.
6.      Parmenides (540-475 SM)
Ia lahir di kota Elea, kota perantauan Yunani di Italia Selatan. kebesarannya sama dengan kebesaran Heradeitos. Dialah yang pertama kali memikirkan tentang hakikat tentang ada (being).
Menurut penuturan Plato, pads usia 65 tahun bersama Zeno berkunjung ke Athena untuk berdialog dengan Socrates yang mass itu Socrates masih muda. Karya-karyanya berbentuk puisi.
Menurut pendapatnya, apa yang disebut sebagai realitas adalah bukan gerak dan perubahan. Hal ini berbeda dengan pendapat Hera­deitos, yaitu bahwa realitas adalah gerak dan perubahan.

a.         Mengenai Hakikat yang Ada (Being)
la kagum adanya misteri segala realitas yang ada. Di situ ia menemukan berbagai (keanekaragaman) kenyataan, dan ditemukan pula adanya hal yang tetap dan berlaku secara umum. sesuatu yang tetap dan berlaku umum itu tidak dapat ditangkap melalui indra, tetapi dapat ditangkap lewat pikiran atau aka]. Untuk memunculkan realitas tersebut hanya dengan berpikir.11
Yang ada (being) itu ada, yang ada tidak dapat hilang menjadi tidak ada, dan yang tidak ada tidak mungkin muncul menjadi ada, yang tidak ada adalah tidak ada, sehingga tidak dapat dipikirkan. Yang dapat dipikirkan hanyalah yang ada saja, yang tidak ada tidak dapat dipikirkan.
Jadi, yang ada (being) itu satu, umum, tetap, dan tidak dapat dibagi-bagi karena membagi yang ada akan menimbulkan atau me­lahirkan banyak yang ada, dan itu tidak mungkin. Yang ada tidak dijadi­kan dan tidak dapat musnah. Tidak ada kekuatan apa pun yang dapat menandingi yang ada. Tidak ada sesuatu pun yang dapat ditambahkan atau mengurangi terhadap yang ada. Kesempurnaan yang ada digam­barkan, sebuah bola yang jaraknya dari pusat ke permukaan semuanya sama. Yang ada di segala tempat, oleh karenanya tidak ada ruangan yang kosong, maka di luar yang ada masih ada sesuatu yang lain.
7.    Zeno (± 490 - 430 SM)
Zeno lahir di Elea, dan murid dari Parmenides. Sebagai murid dari Parmenides ia dengan gigihnya mempertahankan ajaran gurunya dengan cara memberikan argumentasi secara baik. Maka, di kemudian bah ia dianggap sebagai peletak dasar dialektika.
Menurut Aristoteles, Zenolah yang menemukan dialektika, yaitu suatu argumentasi yang bertitik tolak dari suatu pengandaian atau hipotesis, dan dari hipotesis tersebut ditarik suatu kesimpulan. Dalam melawan penentang-penentangnya kesimpulan yang diajukan oleh Zeno dari hipotesis yang diberikan adalah suatu kesimpulan yang mustahil sehingga terbukti bahwa hipotesis itu salah.
Sebagai contoh dalam mengemukakan hipotesis terhadap me­kwan gerak adalah sebagai berikut.
a.          Anak panah yang dilepaskan dari busurnya sebagai hal yang tidak bergerak karena pada setiap saat anak panah tersebut berhenti di suatu tempat tertentu. Kemudian dari tempat tersebut bergerak ke suatu tempat pemberhentian yang lain, dan seterusnya ... Me­mang dikatakan anak panah tersebut melesat hingga sampai yang dituju, artinya perjalanan anak panah tersebut sebenarnya meru­pakan kumpulan pemberhentian-pemberhentian anak panah.
b.          Achiles si jago lari yang termasyhur dalam mitologi Yunani tidak dapat menang melawan kura-kura, karena kura-kura berangkat sebelum Achiles, sehingga Achiles lebih dahulu harus melewati atau mencapai titik di mana kura-kura berada saat ia berangkat. Setelah Achiles berada di suatu titik, kura-kura tersebut sudah lebih jauh lagi, dan seterusnya sehingga jarak antara Achiles dan kura-kura selalu berkurang, tetapi tidak pernah habis.11
Argumentasi Zeno ini selama 20 abad lebih tidak dapat terpe­cahkan orang secara logis. Baru dapat dipecahkan setelah para ahli matematika membuat pengertian limit dari serf tak terhingga.
8.      Empedodes (490 - 435 SM)
Lahir di Akragos, pulau Sicilia. Ia sangat dipengaruhi oleh ajaran kaum Pythagorean, Parmenides, dan aliran keagamaan refisme. Ia pandai dalam bidang kedokteran, penyair retorika, politik, dan pemikir. Ia menulis karyanya dalam bentuk puisi, seperti Parmenides.
Empedodes sependapat dengan Parmenides, bahwa alam se­mesta di dalamnya tidak ada hal yang dilahirkan secara barn, dan tidak ada hal yang hilang. Ia tidak setuju dengan konsep ruang kosong, akan tetapi ia mempertahankan adanya pluralitas dan perubahan dari hasil pengamatan indra. Realitas tersusun oleh empat unsur, yaitu api, udara, tanah, dan air. Kemudian, empat unsur tersebut digabungkan dengan unsur yang berlawanan. Sehingga penggabungan dari unsur­unsur yang berlawanan tersebut akan menghasilkan suatu bendy de­ngan kekuatan yang sama, tidak berubah, walaupun dengan komposisi yang berbeda.
Terdapat dua unsur yang mengatur perubahan-perubahan di alam semesta ini, yaitu: cinta dan benci. Cinta mengatur ke arah peng­gabungan, benci mengatur ke arah perceraian atau perubahan. Kedua unsur tersebut dapat meresap ke mana saja. Proses penggabungan dan perceraian ini terjadi secara terus-menerus,. tiada henti-hentinya.
Dengan demikian, dalam kejadian di alam semesta unsur cinta dan benci selalu menyertainya. Juga, proses penggabungan dan per­ceraian tersebut berlaku untuk melahirkan makhluk-makhluk hidup. Sementara itu, manusia pun di samping terdiri dari empat unsur (api, udara, tanah dan air) juga mengenal. keempat unsur tersebut. Hal ini disebabkan oleh teori pengenalan yang dikemukakan Empedodes bahwa yang sama mengenal yang sarna.11
9.      Anaxagoras ( ± 499 - 420 SM)
Ia dilahirkan di kola Klazomenai, Ionia, kemudian menetap di Athena selama 30 tahun. Anaxogoras adalah ahli pikir yang pertama pang berdomisili di Athena, di mana di kemudian hari Athena inilah awnjadi pusat utama perkembangan filsafat Yunani sampai abad bL-2 SM. Ia pernah diajukan ke pengadilan dengan mengajarkan bahwa matahari adalah batu yang berpijar dan bulan adalah tanah, bukan sebagai dewa seperti apa yang menjadi kepercayaan masyarakat pads saat itu. Atas jasa Perides, is dapat dilepaskan dan kemudian sugarikan diri ke Lampsakos.
Ia mengarang buah karyanya dalam sebuah prosa. Beberapa frag­nwn dari bagian pertama buku tersebut masih tersimpan. Menurut besaksian Aristoteles, Anaxagoras lebih tua daripada Empedodas, wWi buku karyanya muncul setelah karya Empedodes.11
Pemikirannya, realitas bukanlah satu, tetapi terdiri dari banyak unsur dan tidak dapat dibagi-bagi, yaitu atom." Atom ini sebagai bagian yang terkecil dari materi sehingga tidak dapat terlihat dan jum­lahnya tidak terhingga.
Ia tidak sependapat dengan konsep ruang kosong. Alasannya bagaimana dengan gerak atom-atom itu apabila tidak ada ruang kosong. Dan ruang yang kosong inilah yang menjadi syarat untuk bergeraknya atom-atom.
Tentang terbentuknya dunia (kosmos), atom-atom yang berbeda bentuknya itu Baling terkait, kemudian digerakkan oleh puting beliung. Semakin banyak atom-atom yang bergerak akan menimbulkan pusat gerak (atom yang padat).
Realitas seluruhnya merupakan suatu campuran yang mengandung semua benih. Di dalam tiap benda mengandung semua benih. Indra kita tidak dapat melihat semua benih yang ada di dalamnyHanya bisa dilihat benih yang paling dominan. Misalnya, kita meh a: emas (yang terlihat emas, karena warna kuning yang paling dominan), walaupun benih-benih yang lain seperti perak, besi, tembaga terdapat di dalamnya.
Ia mengemukakan pemikirannya tentang nus, bahwa apa yang dikemukakan oleh Empedodes tentang cinta dan benci yang menye­babkan adanya penggabungan dan perceraian, maka Anaxagoras mengemukakan yang menyebabkan benih-benih menjadi kosmos adalah nus. Nus, yang berarti roh atau rasio, tidak tercampur dengan benih-benih dan terpisah dari semua benda. Nus mengenal dan me­nguasai segala sesuatu.
Karena ajaran Anaxagoras tentang nus inilah, untuk pertama kalinya dalam filsafat dikenal adanya pembedaan antara yang jasmani dan yang rohani.11
10.  Democritos (460 - 370 SM)
Ia lahir di kota Abdera di pesisir Thrake di Yunani Utara. Karena ia berasal dari keluarga yang kaya raya, maka dengan kekayaannya itu ia bepergian ke Mesir dan negeri-negeri Timor lainnya. Dari karya­karyanya ia telah mewariskan sebanyak 70 karangan tentang ber­macam-macam masalah, seperti kosmologi, matematika, astronomi, fogika, etika, teknik, musik, puisi, dan lain-lainnya. Oleh karena itu, is dipandang sebagai seorang sarjana yang menguasai banyak bidang.
Pemikirannya adalah bahwa realitas bukanlah satu, tetapi terdiri dari banyak unsur dan jumlahnya tak terhingga. Unsur-unsur terse-but merupakan bagian materi yang sangat kecil sehingga indra kita tidak mampu mengamatinya dan tidak dapat dibagi lagi. Unsur-unsur tersebut dikatakan sebagai atom yang berasal dari satu dari yang lain karena tiga hal yaitu bentuk, urutan, dan posisinya. Atom-atom ini tidak dijadikan dan tidak dapat dimusnahkan, tidak berubah, dan tidak berkualitas.
Menurut pendapatnya, atom-atom itu selalu. bergerak, berarti harus ada ruang kosong. Satu atom hanya dapat bergerak dan men­duduki satu tempat. Maka, Democritos berpendapat bahwa realitas itu ada dua, yaitu atom itu sendiri (yang penuh) dan ruang tempat atom bergerak (yang kosong).

B.     Yunani Klasik
Pada periode Yunani Klasik ini perkembangan filsafat menunjuk­kan kepesatan, yaitu ditandainya semakin besar minas orang terhadap filsafat. Aliran yang mengawali periode Yunani Klasik ini adalah Sofisme. Penamaan aliran Sofisme ini berasal dari kata sophos yang artinya cerdik pandai. Keberadaan Sofisme ini dengan keahliannya dalam bidang-bidang bahasa, politik, retorika, dan terutama mema­parkan tentang kosmos dan kehidupan manusia di masyarakat se­hingga keberadaan Sofisme ini dapat membawa perubahan budaya dan peradaban Athena.
Antara kaum Sofis dengan Socrates mempunyai hubungan yang erat sekali. Di samping mereka itu hidup sezaman, pokok permasalah­an pernikiran mereka juga sama, yaitu permasalahan Socrates bukan ko jagat raya, tetapi manusia (Socrates telah memindahkan filsafat dari langit ke bumi), sedangkan kaum Sofis juga memusatkan perha­tian pemikirannya kepada manusia. Bahkan Aristophanes menyebutkan bahwa sesungguhnya Socrates termasuk kaum Sofis. Perbedaan antara kaum Sofis dengan Socrates adalah bahwa pemikiran filsafat Socrates sebagai suatu reaksi dan kritik terhadap pemikiran kaum Sofis.11
1.   Kaum Sofis
Sofisme bukan merupakan suatu aliran atau ajaran, tetapi lebih merupakan suatu gerakan dalam bidang intelektual yang disebabkan oleh pengaruh kepesatan minat orang terhadap filsafat.
Istilah Sofis yang berasal dari kata sophistes mempunyai penger­tian seorang sarjana atau cendekiawan. Di kemudian hari sebutan sofis mempunyai pengertian yang kurang baik karena sofis diartikan sebagai orang-orang yang pekerjaannya menipu dengan omongan besar, dengan memakai alasan-alasan yang dibuatnya sehingga orang yang menjadi korbannya yakin dengan apa yang dikatakan si sofis. Para sofis tersebut pekerjaannya berkeliling kota untuk memberikan ajarannya dengan imbalan jasa atau uang.
Di atas telah disebutkan bahwa timbulnya kaum Sofis karena akibat dari minat orang terhadap filsafat. Akan tetapi, terdapat tiga faktor yang mendorong timbulnya kaum Sofis, yaitu sebagai berikut.
a.    Perkembangan secara pesat kota Athena dalam bidang politik dan ekonomi. Hal ini mengakibatkan kota Athena menjadi ramai, demikian juga Para ahli pikir atau kaum intelektual mengunjungi kota Athena. Dengan demikian, Athena menjadi kota yang ber­kembang sangat pesat dalam bidang intelektual maupun bidang kultural.
b.   Setelah kota Athena mengalami keramaian penduduknya yang bertempat tinggal, maka kebutuhan dalam bidang pendidikan tidak terelakkan lagi karena desakan kaum intelektual. Lebih-lebih Athena sebagai pusat politik sehingga, peranan pendidikan sangat penting untuk mendidik kaum mudanya. Kaum Sofis men-&& kaum mudanya sebagai upaya untuk melanjutkan pendi­Akan dasar yang telah ada. Pendidikan yang diupayakan adalah matematika, astronomi, bahasa yang penting untuk mendidik kaum muda dalam keterampilan berdebat dan percaturan politik. Dengan demikian, kaum Sofis mempunyai jasa yang besar dalam bidang retorika (tata bahasa) atau ilmu keahlian berpidato.
c.    Karena pemukiman perkotaan bangsa Yunani biasanya terletak di pantai, kontak dan pergaulan dengan bangsa lain tidak dapat dihindari lagi. Akibatnya, orang-orang Yunani banyak mengenal berbagai kebudayaan, dan sekaligus terjadi akulturasi kebuda­yaan. Sehingga, dengan terbukanya masyarakat Yunani terhadap budaya luar akan membuat orang-orang Yunani menjadi dinamis dan berkembang.
d.   Salah satu tokoh Sofisme adalah Gorgias (480 - 380 SM). Gorgias tokoh Sofisme yang paling banyak muridnya, walaupun masih banyak lagi tokoh yang kecil, misalnya Hippias, Prodikos, dan Kritias.
2.      Gwgias (480 - 380 SM)
la lahir di Leontinoi, Sicilia. Namanya menjadi terkenal karena ajarannya dalam bidang retorika atau seni berpidato, dan memang is sangat pandai berdebat.
Menurut pendapatnya, yang penting adalah bagaimana dapat meyakinkan orang lain agar menerima pendapat kita. Dengan demi­kian, dalam berdebat bukan mencari kebenaran, tetapi bagaimana memenangkan perdebatan.
Pemikirannya yang penting adalah:
a.          mencari keterangan tentang asal usul yang ada;
b.          bagaimana peran manusia sebagai makhluk yang mempunyai ke hendak berpikir karena dengan kehendak berpikir itulah manusia mempunyai pengetahuan yang nantinya akan menentukan sikap hidupnya;
c.          norma yang sifatnya umum tidak ada, yang ada norma yang individualistic (subjektivisme);
d.          bahwa kebenaran tidak dapat diketahui sehingga ia termasuk penganut Skeptisisme.
Dari pendapat beberapa orang terhadap aliran Sofisme terdapat perbedaan, yaitu ada yang menganggap bahwa aliran Sofisme sebagai aliran yang merusak dunia filsafat. Jugs sebaliknya, yaitu mengajarkan kepada orang agar kita dapat berpikir secara kritis, (ini tidak dapat kita tiru) mencari kelemahan-kelemahan yang sifatnya destruktif agar kita memenangkan perdebatan.
Aspek positif dari adanya aliran Sofisme ini akan mempengaruhi terhadap, kebudayaan Yunani, yaitu suatu revolusi intelektual, dan mengangkat manusia sebagai objek pemikiran filsafat. Hal ini akan mempengaruhi pemikiran Socrates Berta pelopor bagi pendidikan bagi para pemuda secara sistematis. Aspek negatifnya, aliran Sofisme membawa pengaruh yang tidak baik terhadap kebudayaan Yunani, terutama nilai-nilai tradisional (agama dan moral) dihancurkan. Kecakapan berpidato dipergunakan untuk memutarbalikkan kebe­naran karena Sofisme meragukan kebenaran dan ilmu pengetahuan digoncangkan.20
Hal terpenting dengan munculnya Sofisme ini adalah mempu­nyai peran yang sangat penting dalam rangka menyiapkan kelahiran pemikiran filsafat Yunani Klasik yang dipelopori Socrates, Plato, dan Aristoteles.
3.      Socrates (469 - 399)
Mengenai riwayat Socrates tidak banyak diketahui, tetapi sebagai utama keterangan tentang dirinya dapat diperoleh dari tulisan hanes, Xenophon, Plato, dan Aristoteles. Ia sendiri tidak me­kan tulisan, sedangkan keterangan tentang dirinya didapat para muridnya. Orang yang paling banyak menulis tentang tes adalah Plato yang berupa dialog-dialog.
Ia anak seorang pemahat Sophroniscos, dan ibunya bernama rnarete, yang pekerjaannya seorang bidan. Istrinya bernama yang dikenal sebagai seorang yang judes (galak dan keras). berasal dari keluarga yang kaya dengan mendapatkan pendidikan baik, kemudian menjadi prajurit Athena. Ia terkenal sebagai pra­yang gagah berani. Karena ia tidak suka terhadap urusan politik, ia lebih senang memusatkan perhatiannya kepada filsafat, yang ia dalam keadaan miskin.
Seperti halnya kaum Sofis, Socrates mengarahkan perhatiannya manusia sebagai objek pemikiran filsafatnya. Berbeda dengan Sofis, yang setiap mengajarkan pengetahuannya selalu me­t bayaran, tetapi Socrates tidak memungut bayaran kepada muridnya. Maka, ia kemudian oleh kaum Sofis sendiri dituduh rikan ajaran barunya, merusak moral para pemuda, dan me-g kepercayaan negara. Kemudian ia ditangkap dan akhirnya coati dengan minum racun pada umur 70 tahun yaitu pada 399 SM. Pembelaan Socrates atas tuduhan tersebut telah ditulis Plato dalam karangannya: Apologia.
Sejak muda Socrates telah terlihat sifat kebijaksanaannya, karena min ia cerdas juga pada setiap perilakunya dituntun oleh suara batin (daimon) yang selalu membisikkan dan menuntun ke arah keutama­an moral. Cara memberikan pelajaran kepada para muridnya dengan &alog (tanya jawab), yang bertu)uaD untuk mengupas kebenaran semu yang selalu menyelimuti Para muridnya. Kebenaran semu ter­sebut muncul karena ketidaktahuan para muridnya tentang hal-hal tertentu. Dengan-cara dialog pengetahuan semu akan terdobrak sehingga mampu keluar dan melahirkan pengetahuan yang sejati.
Peran Socrates dalam mendobrak pengetahuan semu itu meniru pekerjaan ibunya sebagai seorang bidan dalam upaya menolong kela­hiran bayi, akan tetapi ia berperan sebagai bidan pengetahuan. Teknik dalam upaya menolong kelahiran (bayi) pengetahuan itu disebut majeutike (kebidanan) yaitu dengan cara mengamat-amati hal-hal yang konkret dan yang beragam coraknya tetapi pada jenis yang sama. Kemudian unsur-unsur yang berbeda dihilangkan sehingga tinggallah unsur yang sama dan bersifat umum, itulah pengetahuan sejati.
Pengetahuan sejati atau pengertian sejati sangat penting dalam mencapai keutamaan moral. Barangsiapa yang mempunyai pengertian sejati berarti memiliki kebajikan (arete) atau keutamaan moral berarti pula memiliki kesempurnaan manusia sebagai manusia.*)
Socrates dengan pemikiran filsafatnya untuk menyelidiki manusia secara keseluruhan, yaitu dengan menghargai nilai-nilai jasmaniah dan rohaniah yang keduanya tidak dapat dipisahkan karena dengan keterkaitan kedua hal tersebut banyak nilai yang dihasilkan.
4.      Plato (427 - 347 SM)
Plato adalah pengikut Socrates yang tact di antara para pengikut­nya yang mempunyai pengaruh besar. Selain dikenal sebagai ahli pikir jugs dikenal sebagai sastrawan yang terkenal. Tulisannya sangat banyak, sehingga keterangan tentang dirinya dapat diperolehnya secara cukup Ia lahir di Athena, dengan nama asli Aristodes. Ia belajar filsafat dari Socrates, Pythagoras, Heradeitos, dan Elia, akan tetapi ajarannya yang paling besar pengaruhnya adalah dari nama Ariston dan ibunya bernama Periktione. Sebagai orang yang dilahirkan dalam lingkungan keluarga bangsawan ia mendapatkan pendidikan yang baik dari seorang bangsawan, bernama Pyrilampes. Sejak anak-anak ia telah mengenal Socrates dan kemudian menjadi gurunya selama 8 tahun.
Pada usia 40 tahun ia mengunjungi Italia dan Sicilia, untuk belajar ajaran Pythagoras, kemudian sekembalinya ia mendirikan sekolah: Akademia. sekolah tersebut dinamakan Akademis, karena berdekatan dengan kuil Akademos seorang pahlawan Athena. Ia memimpin seko­lah tersebut selama 40 tahun. Ia memberikan pengajaran secara baik dalam bidang ilmu pengetahuan dan filsafat, terutama bagi orang­orang yang akan menjadi politikus.
Sebagai titik tolak pemikiran filsafatnya, ia mencoba menyele­saikan permasalahan lama: mana yang benar yang berubah-ubah (Heradeitos) atau yang tetap (Parmenides). Mana yang benar antara pengetahuan yang lewat indra dengan pengetahuan yang lewat akal. Pengetahuan yang diperoleh lewat indra dise-butnya pengetahuan indra atau pengetahuan pengalaman. Sementara itu, pengetahuan yang diperoleh lewat akal disebut pengetahuan akal. Pengetahuan indra atau pengetahuan pengalaman bersifat tidak tetap atau berubah-ubah, sedangkan pengetahuan akal bersifat  tetap atau tidak berubah-ubah.
Sebagai contoh, terdapat banyak segitiga yang bentuknya berlain­lainan menurut pengetahuan indra atau pengetahuan pengalaman, tetapi dalam ide atau pikiran bentuk segitiga tersebut hanya satu dan tetap, dan ini menurut pengetahuan akal.

Dunia Ide dan Dunia Pengalaman
Sebagai penyelesaian persoalan yang dihadapi Plato tersebut di atas, is menerangkan bahwa manusia itu sesungguhnya berada dalam dua dunia, yaitu dunia pengalaman yang bersifat tidak tetap, berma­cam-macam dan berubah Berta dunia ide yang bersifat tetap, hanya sat' macam, dan tidak berubah. Dunia pengalaman merupakan bayang-bayang dari dunia ide sedangkan dunia ide merupakan dunia yang sesungguhnya, yaitu dunia realitas. Dunia inilah yang menjadi "model" dunia pengalaman. Dengan demikian, dunia yang sesung­guhnya atau dunia realitas itu adalah dunia ide.
jadi, Plato, dengan ajarannya tentang ide, berhasil menjembatani pertentangan pendapat antara Herakleitos dan Parmenides. Plato mengemukakan bahwa ajaran dan pemikiran Herakleitos itu benar, tetapi hanya berlaku pada dunia pengalaman. Sebaliknya, pendapat Parmenides jugs benar, tetapi hanya berlaku pada dunia ide yang hanya dapat dipikirkan oleh akal.
Dibandingkan dengan gurunya, Socrates, Plato telah maju selang­kah dalam pemikirannya. Socrates barn sampai pada pemikiran tentang sesuatu yang umum dan merupakan hakikat suatu realitas, tetapi Plato telah mengembangkannya dengan pemikiran bahwa hakikat suatu realitas itu bukan "yang umum", tetapi yang mempunyai kenyataan yang terpisah dari sesuatu yang berada secara konkret, yaitu ide. Dunia ide inilah yang hanya dapat dipikirkan dan diketahui oleh akal.11
Pemikirannya tentang Tuhan, Plato mengemukakan bahwa ter­dapat beberapa masalah bagi manusia yang tidak pantas apabila tidak mengetahuinya. Masalah tersebut adalah sebagai berikut.
a.       Manusia itu mempunyai Tuhan sebagai penciptanya.
b.      Tuhan itu mengetahui segala sesuatu yang diperbuat oleh manusia.
c.        Tuhan hanya dapat diketahui dengan cara negatif, tidak ada ayat, tidak ada anak dan lain-lain.
d.      Tuhanlah yang menjadikan alam ini dari tidak mempunyai per­aturan menjadi mempunyai peraturan.
Sebagai puncak pemikiran filsafat Plato adalah pemikirannya tentang negara, yang tertera dalam Polites dan Nomoi. Pemikirannya tentang negara ini sebagai upaya Plato untuk memperbaiki keadaan negara yang dirasakan buruk.
Konsepnya tentang negara di dalamnya terkait etika dan teorinya tentang negara. Konsepnya tentang etika sama seperti Socrates, yaitu bahwa tujuan hidup manusia adalah hidup yang baik (eudaimonia atau well-being). Akan tetapi, untuk hidup yang baik tidak mungkin dflakukan tanpa di dalam polis (negara). Alasannya, karena manusia menurut kodratnya merupakan makhluk social dan kodratnya di dalam polis (negara). Maka, untuk hidup yang baik, dituntut adanya negara yang baik. Sebaliknya, polis (negara) yang jelek atau buruk tidak mungkin menjadikan Para warganya hidup dengan baik.
Menurut Plato, di dalam negara yang ideal terdapat tiga golongan berikut.
a.             Golongan yang tertinggi, terdiri dari orang-orang yang meme­rintah (para penjaga, para filsuD.
b.            Golongan pembantu, terdiri dari para prajurit, yang bertugas untuk menjaga keamanan negara dan menjaga ketaatan para warganya.
c.             Golongan rakyat biasa, terdiri dari petani, pedagang, tukang, yang bertugas untuk memikul ekonomi negara (polis)23
Tugas negarawan adalah mencipta keselarasan antara semua keahlian dalam negara (polis) sehingga mewujudkan keseluruhan yang harmonis. Bentuk pemerintahan harus disesuaikan dengan keadaan yang nyata.
Apabila suatu negara telah mempunyai Undang-Undang Dasar, bentuk pemerintahan yang paling tepat adalah monarki. Bentuk pemerintahan yang aristokrasi dianggap kurang tepat dan sedangkan bentuk pemerintahan yang terburuk adalah demokrasi. Sementara itu, apabila suatu negara belum mempunyai Undang-Undang Dasar, bentuk pemerintahan yang paling tepat adalah demokrasi, dan yang paling buruk adalah monarki. Konsep tentang negara ini ter'tera dalam Politeia (Tara negara)."
5.      Aristoteles (384 - 322 SM)
la dilahirkan di Stageira, Yunani Utara pads tahun 384 SM. Ayahnya seorang dokter pribadi di raja Macedonia Amyntas. Karena hidupnya di lingkungan istana, ia mewarisi keahliannya dalam penge­tahuan empiris dari ayahnya. Pads usia 17 tahun ia dikirim ke Athena untuk belajar di Akademia Plato selama kira-kira 20 tahun hingga Plato meninggal. Beberapa lama ia menjadi pengajar di Akademia Plato untuk mengajar logika dan retorika.
Setelah Plato meninggal dunia, Aristoteles bersama rekannya Xenokrates meninggalkan Athena karena ia tidak setuju dengan pen­dapat pengganti Plato di Akademia tentang filsafat. Tiba di Assos, Aristoteles dan rekannya mengajar di sekolah Assos. Di sini Aristo­teles menikah dengan Pythias. Pads tahun 345 SM kota Assos diserang oleh tentara Parsi, rajanya (rekan Aristoteles) dibunuh, kemudian Aristoteles dengan kawan-kawannya melarikan diri ke Mytilene di pulau Lesbos tidak jauh dari Assos.
Tahun 342 SM Aristoteles diundang raja Philippos dari Macedonia untuk mendidik anaknya Alexander. Dengan bantuan raja Aristoteles mendirikan sekolah Lykeion.
Karya-karya Aristoteles berjumlah delapan pokok bahasan sebagai berikut.

a.    Logika, terdiri dari:
1)         Categoriac (kategori-kategori),
2)         De interpretations (perihal penafsiran),
3)         Analytics Priors (analitika logika yang lebih dahulu),
4)         Analytics Posteriors (analitika logika yang kemudian),
5)         Topics,
6)         De Sophistics Elenchis (tentang cars berargumentasi kaum Sofis).
b.   Filsafat Alam, terdiri dari:
1)         Phisica,
2)         De caelo (perihal langit),
3)         De generatione et corruptions (tentang timbul-hilangnya makh­luk-makhluk jasmani),
4)         Meteorologica (ajaran tentang badan-badan jagad rays).
c.    Psikologi, terdiri dari:
1)            De anima (perihal jiwa),
2)            Parva naturalia (karangan-karangan kecil tentang pokok­pokok alamiah).
d.      Biologi, terdiri dari:
1)         De partibus animalium (perihal bagian-bagian binatang)
2)         De mutu animalium (perihal gerak binatang)
3)         De incessu animalium (tentang binatang yang berjalan)
4)         De generatione animalium (perihal kejadian binatang-binatang)
e.       Metafisika, oleh Aristoteles dinamakan sebagai filsafat pertama atau theologia.
f.        Etika, terdiri dari:
1)      Ethica Nicomachea,
2)      Magna moralia (karangan besar tentang moral),
3)      Ethica Eudemia.
g.       Politik dan ekonomi, terdiri dari:
1)      Politics,
2)      Economics.
h.       Retorika dan poetika, terdiri dari:
1)      Rhetorica,
2)      Poetica.
Berikut ini akan kami uraikan tentang beberapa pemikiran Aristoteles yang terdiri dari:
a.        ajarannya tentang logika;
b.       ajarannya tentang sillogisme;
c.        ajarannya tentang pengelompokan ilmu pengetahuan;
d.       ajarannya tentang potensia dan dinamika;
e.        ajarannya tentang pengenalan;
f.         ajarannya tentang etika;
g.       ajarannya tentang negara.

ad. a. Ajarannya tentang Logika
Logika tidak dipakai oleh Aristoteles, ia memakai istilah analitika. Istilah logika pertama kali muncul pada abad pertama Masehi oleh Cicero, artinya seni berdebat. Kemudian, Alexander Aphrodisiac (Abad III Masehi) orang pertama yang memakai kata logika yang artinya ilmu yang menyelidiki lurus tidaknya pemikiran kita.
Menurut Aristoteles, berpikir harus dilakukan dengan bertitiktolak pada pengertian-pengertian sesuatu benda. Suatu pengertian mernuat dua golongan, yaitu substansi (sebagai sifat yang umum), dan aksidensia (sebagai sifat yang secara tidak kebetulan). Dari dua golongan tersebut terurai menjadi sepuluh macam kategori, yaitu:
1.      Subtansi (mis. manusia, binatang);
2.      kuantitas (dua, tiga);
3.      kualitas (merah, baik);
4.      relasi (rangkap, separuh);
5.      tempat (di rumah, di pasar);
6.      waktu (sekarang, besok);
7.      keadaan (duduk, berjalan);
8.      mempunyai (berpakaian, suami);
9.      berbuat (membaca, menulis);
menderita (terpotong, tergilas. Sampai sekarang, aristoteles dianggap sebagai bapak logika tradisional.
ad. b. Ajarannya tentang Silogisme
Menurut Aristoteles, pengetahuan manusia hanya dapat dimunculkan ­dengan dua cara, yaitu induksi dan deduksi. Induksi adalah proses berpikir yang bertolak pada hal-hal yang khusus untuk kesimpulan yang sifatnya umum. Sementara itu, deduksi proses berpikir yang bertolak pada dua kebenaran yang tidak lagi untuk mencapai kesimpulan sebagai kebenaran yang ketiga. Menurut pendapatnya, deduksi ini merupakan jalan yang baik melahirkan pengetahuan baru. Berpikir deduksi yaitu silogisme,yang terdiri dari premis mayor dan premis minor, dan kesimpulan.
Perhatikan contoh berikut.
-       Manusia makhluk hidup (premis mayor)
-       Si Fulan adalah manusia (premis minor)
-       Si Fulan adalah makhluk hidup (kesimpulan)
ad. c. Ajarannya tentang Pengelompokan Ilmu Pengetahuan
Aristoteles mengelompokkan ilmu pengetahuan menjadi tiga golongan, yaitu:
a.         ilmu pengetahuan praktis (etika dan politik);
b.         ilmu pengetahuan produktif (teknik dan kesenian);
c.         ilmu pengetahuan teoretis (fisika, matematika, metafisika).
ad. d. Ajarannya tentang Aktus dan Potensia
Mengenai realitas atau yang ada, Aristoteles tidak sependapat dengan gurunya Plato yang mengatakan bahwa realitas itu ada pada dunia ide. Menurut Aristoteles, yang ada itu berada pada hal-hal yang khusus dan konkret. Dengan kata lain, titik tolak ajaran atau pemikiran filsafatnya adalah ajaran Plato tentang ide. Realitas yang sungguh-sungguh ada bukanlah yang umum dan yang tetap seperti yang dikemukakan Plato, tetapi realitas terdapat pada yang khusus dan yang individual. Keberadaan manusia bukan di dunia ide, tetapi manusia berada yang satu per satu. Dengan demikian, realitas itu terdapat pada yang konkret, yang bermacam-macam, yang berubah-­ubah. Itulah realitas yang  sesungguhnya.
Mengenai hule dan morfe, bahwa yang disebut sebagai hule ada­lah suatu unsur yang menjadi dasar permacaman. Sementara itu, morfe adalah unsur yang menjadi dasar kesatuan. Setiap benda yang konkret terdiri dari hule dan morfe. Misalnya, es batu dapat dijadikan es teh, es sirop, es jeruk, dan es teh tentu akan lain dengan es jeruk karena morfenya. Jadi, hule dan morfe tidak terpisahkan.
ad e. Ajarannya tentang Pengenalan
Menurut Aristoteles, terdapat dua macam pengenalan, yaitu pengenalan indrawi dan pengenalan rasional. Dengan pengenalan indrawi kita hanya dapat memperoleh pengetahuan tentang bentuk benda (bukan materinya) dan hanya mengenal hal-hal yang konkret. Sementara itu, pengenalan rasional kita akan dapat memperoleh pengetahuan tentang hakikat dari sesuatu benda. Dengan pengenalan rasional ini kita dapat menuju satu-satunya untuk ke ilmu pengeta­huan. Cara untuk menuju ke ilmu pengetahuan adalah dengan teknik abstraksi. Abstraksi artinya melepaskan sifat-sifat atau keadaan yang secara kebetulan, sehingga tinggal sifat atau keadaan yang secara kebetulan yaitu intisari atau hakikat suatu benda.
ad.  f. Ajarannya tentang Etika
Aristoteles mempunyai perhatian yang khusus terhadap masalah etika. Karena etika bukan diperuntukkan sebagai cita-cita, akan tetapi dipakai sebagai hukum kesusilaan. Menurut pendapatnya, tujuan ter­tinggi hidup manusia adalah kebahagiaan (eudaimonia). Kebahagiaan adalahh suatu keadaan di mana segala sesuatu yang termasuk dalam keadaan bahagia telah berada dalam diri manusia. Jadi, bukan sebagai sebahagian subjektif. Kebahagiaan harus sebagai suatu aktivitas yang nyata , dan dengan perbuatannya itu dirinya semakin disempurnakan..Kebahagiaan  manusia yang tertinggi adalah berpikir murni.

ad. g. Ajarannya tentang Negara
Menurut Aristoteles, negara akan damai apabila rakyatnya juga damai. Negara yang paling baik adalah negara dengan sistem demokrasi yang berdasarkan moderat, artinya sistem demokrasi yang berdasarkan Undang-Undang Dasar.

6.      Filsafat Hellenisme
Filsafat Yunani Klasik mencapai puncaknya dengan munculnya Aristoteles. Setelah Aristoteles meninggal dunia, pemikiran filsafat Yunani merosot. Lima abad sepeninggal Aristoteles terjadi kekosong­an sehingga tidak ada ahli pikir yang menghasilkan buah pemikiran filsafatnya seperti Plato atau Aristoteles, sampai munculnya filosof Plotinus (204 - 270).
Lima abad dari adanya kekosongan di atas diisi oleh aliran-aliran besar (seperti: Epikurisme, Stoaisme, Skeptisisme, dan Neoplato­nisme). Pokok permasalahan filsafat dipusatkan pada cara hidup manusia sehingga orang yang dikatakan bijaksana adalah orang yang mengatur hidupnya menurut budinya. Cara untuk mengatur hidup inilah yang menjadi dasar dari Epikurisme, Stoaisme, dan Skeptisisme. Menurut sejarah filsafat, masa ini (sesudah Aristoteles) disebut zaman Hellenisme .17
Filsafat Hellenisme ini dimulai pada pemerintahan Alexander Agung (356 - 23 SM) atau Iskandar Zulkarnain Raja Macedonia. Pada zaman ini terjadi pergeseran pemikiran filsafat, dari filsafat teoretis menjadi filsafat praktis.
a.      Epicurisme
Sebagai tokohnya Epicurus (341 - 271 SM), lahir di Samos dan mendapatkan pendidikan di Athena. la mendapat pengaruh dari ajaran Democritos dan Aristophos.
Pokok ajarannya adalah bagaimana agar manusia itu dalam hi­dupnya bahagia. Epicurus mengemukakan bahwa agar manusia dalam hidupnya bahagia terlebih dahulu harus memperoleh ketenangan jiwa (ataraxia). Menurut kenyataan, banyak manusia yang hidupnya tidak bahagia karena mengalami ketakutan. Jadi, apabila manusia telah dapat menghilangkan ketakutannya itu, niscaya manusia akan memperoleh ketenangan jiwa, yang selanjutnya akan memperoleh kebahagiaan.
Terdapat tiga ketakutan dalam diri manusia seperti berikut ini.
Pertama, agar manusia tidak takut terhadap kemarahan dewa. Sesung­guhnya tidak beralasan manusia takut terhadap kemarahan dewa karena dewa mempunyai dunianya sendiri dan ma­nusia mempunyai dunianya sendiri. jadi dunia dewa dengan manusia lain.
Kedua, agar manusia tidak takut terhadap kematian. Tidak beralasan apabila manusia takut terhadap kematian karena kematian itu merupakan akhir suatu kehidupan dan setelah manusia hidup, tidak ada kehidupan lagi. Jadi, manusia tidak perlu takut akan kematian.
Ketiga, agar manusia tidak takut terhadap nasib. Karena nasib ma­nusia bukan ditentukan oleh dewa, akan tetapi ditentukan oleh atom-atom. Dengan demikian, adanya nasib manusia itu tergantung dari gerak atom-atom yang terdapat dalam diri manusia. Maka tidak ada alasan untuk takut terhadap nasib.
Untuk mencapai kebahagiaan manusia harus menghilangkan rasa ketakutan terhadap kemarahan dewa, kematian, dan akan nasib.
b.         Stoaisme
Sebagai tokohnya. adalah Zeno (366 - 264 SM) yang berasal dari Citium, Cyprus. Ajarannya mempunyai persamaan dengan Epicurus.
Pokok ajarannya adalah bagaimana manusia dalam hidupnya dapat bahagia. Untuk mencapai kebahagiaan tersebut manusia harus harmoni terhadap dunia (alam) dan harmoni dengan dirinya sendiri. Mengapa manusia harus harmoni dengan dunia (alam), karena manusia merupakan bagian daripada dunia (alam). Untuk mencapai harmoni dengan dunia (alam), manusia harus terlebih dahulu harus harmoni dengan dirinya sendiri. Apabila manusia telah dapat mencapai har­moni dengan dirinya sendiri, maka kebahagiaan bukan lagi sebagai tujuan hidup, tetapi dalam keadaan harmoni dengan dirinya sendiri, itulah sesungguhnya manusia dalam keadaan apatheia, yaitu keadaan tanpa rasa (pathe) atau keadaan manusia di mana dirinya dapat me­nguasai segala perasaannya.11
c.       Skeptisisme
Tokoh skeptisisme adalah Pyrrhe (360 - 270 SM). Pokok ajaran­nya adalah bagaimana cara manusia agar dapat hidup berbahagia. Hal ini is menengarai bahwa sebagian besar manusia itu hidupnya tidak bahagia, sehingga manusia sukar sekali mencapai kebijak­sanaan. Syaratnya, manusia perlu untuk tidak mengambil keputusan karena orang yang tidak pernah mengambil keputusan itu disebut orang yang tidak pernah keliru. Untuk tidak pernah keliru itu manusia harus selalu ragu-ragu terhadap segala bentuk kebenaran dan penge­tahuan. Dengan demikian, orang yang bijaksana adalah orang yang selalu ragu-ragu, dengan ragu-ragu itu orang akan tidak pernah keliru. Akhirnya orang tersebut dikatakan sebagai orang yang tidak pernah mengambil keputusan, dan orang yang tidak pernah mengambil ke­putusan itulah orang yang berbahagia.
Aliran yang lain tingkatannya lebih kecil dari ketiga aliran di atas adalah: Neopythagoras (merupakan campuran dari ajaran Plato, Aristoteles, dan Kaum Stoa), tokohnya Appolonius dari Tyana yang hidup abad pertama SM. Kemudian, Platonis Tengah di mana ajarannya banyak diwarnai ajaran agama. Tokohnya Plutarkhos dan Noumenios, yang hidup pada abad kedua Masehi.
Aliran ketiga adalah filsafat Yahudi. Tokohnya adalah Philo yang hidup tahun 30 SM. la mengupayakan perpaduan antara filsafat Yahudi dengan filsafat Hellenisme.

d.      Neoplatonisme
Tokohnya adalah Plotinus clan Ammonius Saccas. Kurang lebih 5 abad sesudah Aristoteles meninggal dunia, muncul kembali filsafat Yunani yang untuk terakhir kalinya. Munculnya kembali pemikiran filsafat Yunani ini bersamaan dengan munculnya agama Kristen (awal abad Masehi).
Plotinus (204 - 270) lahir di Lykopolis, Mesir. Pemikiran filsa­fatnya dipengaruhi oleh Plato, sedikit Aristoteles. Titik tolak pemi­kiran filsafat Plotinus adalah bahwa asas yang menguasai segala sesuatu adalah satu. Filsafat Neoplatonisme merupakan perpaduan antara filsafat Plato (Ide kebaikan tertinggi) dengan diberi penekanan kepada upaya pencarian pengalaman batiniah untuk menuju ke ke­satuan dengan Tuhan (Yang Esa).
Pemikirannya, karena Tuhan merupakan isi dan titik tolak pemikirannya, Tuhan dianggap sebagai Kebaikan Tertinggi dan seka­ligus menjadi tujuan semua kehendak. Ada segala sesuatu timbul dari Ada Yang Esa. Yang Esa keluar dari dalam dirinya, tanpa gerak, tanpa kehendak. Yang Esa mengeluarkan pancaran sinar yang tidak ber­gerak (yaitu matahari yang juga selalu memancarkan sinarnya).
Demikian juga, manusia sebagai makhluk bukanlah sebagai ciptaan Tuhan, tetapi pancaran Tuhan. Proses timbulnya makhluk, pertama yang muncul dari Yang Esa disebut jiwa. jiwa inilah yang menggerakkan alam semesta. Kemudian, dari jiwa timbul roh-roh, dari roh-roh menimbulkan materi-materi.
Karena segala sesuatu (termasuk manusia) itu timbul dengan sendirinya (tidak dicipta Tuhan), tugas manusia adalah kembali ke asalnya yaitu Tuhan. Dalam kehidupan manusia di dunia, apabila manusia terlalu mencurahkan hidupnya ke arah dunia, manusia akan melupakan kodrat sejatinya. Dan apabila manusia memandang dunia secara wajar, manusia akan dapat mencapai dunia ide (Ide Yang Satu yaitu Tuhan).
Plotinus mengharapkan agar manusia tidak menekankan ke­duniawian sehingga cepat dapat mencapai keindahan dunia. Untuk mencapai keindahan dunia sehingga cepat sampai ke dunia Ide, manusia harus memurnikan diri dari keduniawian yang serbaneka. Akhirnya, apabila manusia dapat memurnikan dirinya dengan men­jauhi keduniawian, manusia niscaya akan dapat bersatu dengan Tuhan.11
Walaupun Plotinus mendasarkan diri pada pemikiran Plato, tetapi Plotinus memajukan hal baru yang belum terdapat dalam filsa­fat Yunani, yaitu arah pemikirannya kepada Tuhan clan Tuhan dijadikan dasar segala sesuatunya.
Karena zaman Neoplatonisme ini diwarnai oleh agama, zaman ini disebutnya sebagai zaman mistik.






BAB II
FILSAFAT BARAT ABAD PERTENGAHAN
Filsafat Yunani mengalami kemegahan dan kejayaannya dengan hasil yang sangat gemilang, yaitu melahirkan peradaban Yunani. Menurut pandangan sejarah filsafat, dikemukakan bahwa peradaban Yunani merupakan titik tolak peradaban manusia di dunia. Maka pandangan sejarah filsafat dikemukakan manusia di dunia. Giliran selanjutnya adalah warisan peradaban Yunani jatuh ke tangan ke­kuasaan Romawi.' Kekuasaan Romawi memperlihatkan kebesaran clan kekuasaannya hingga daratan Eropa (Britania), tidak ketinggalan pula pemikiran filsafat Yunani juga ikut terbawa. Hal ini berkat peran Caesar Augustus yang mencipta masa keemasan kesusastraan Latin, kesenian, dan arsitektur Romawi.1
Setelah filsafat Yunani sampai ke daratan Eropa, di sana menda­patkan lahan baru dalam pertumbuhannya. Karena bersamaan dengan agama Kristen, filsafat Yunani berintegrasi dengan agama Kristen, sehingga membentuk suatu formulasi baru. Maka, muncullah filsafat Eropa yang sesungguhnya sebagai penjelmaan filsafat Yunani setelah berintegrasi dengan  agama Kristen.
Di dalam masa pertumbuhan dan perkembangan filsafat Eropa (kira-kira selama 5 abad) belum memunculkan ahli pikir (filosof, akan tetapi -setelah abad ke-6 Masehi, barulah muncul para ahli pikir yang mengadakan penyelidikan filsafat. jadi, filsafat Eropa yang me­ngawali kelahiran filsafat barat abad pertengahan.
Kekuatan pengaruh antara filsafat Yunani dengan agama Kristen dikatakan seimbang. Apabila tidak seimbang pengaruhnya, maka tidak mungkin berintegrasi membentuk suatu formula baru. Walaupun agama Kristen relatif masih baru keberadaannya, tetapi pada saat itu muncul anggapan yang sama terhadap filsafat Yunani ataupun agama Kristen. Anggapan pertama, bahwa Tuhan turun ke bumi (dunia) dengan membawa kabar baik bagi umat manusia. Kabar baik tersebut berupa firman Tuhan yang dianggap sebagai sumber kebijaksanaan yang sempurna dan sejati. Anggapan kedua, bahwa walaupun orang­orang telah mengenal agama baru, tetapi juga mengenal filsafat Yunani yang dianggap sebagai sumber kebijaksanaan yang tidak diragukan lagi kebenarannya.
Dengan demikian, di benua Eropa filsafat Yunani akan tumbuh dan berkembang dalam suasana yang lain. Filsafat Eropa merupakan sesuatu yang baru, suatu formulasi baru, pohon filsafat masih yang lama (dari Yunani), tetapi tunas yang baru (karena pengaruh agama Kristen) memungkinkan perkembangan dan pertumbuhan yang rindang.3
Filsafat Barat Abad Pertengahan (476 - 1492) juga dapat dikata­kan sebagai "abad gelap". Pendapat ini didasarkan pada penclekatan sejarahSereja. Memang pada saat itu tindakan gereja sangat mem­belenggu kehidupan manusia sehingga manusia tidak lagi memiliki kebebasan untuk mengembangkan  potensi yang terdapat dalamdirinya. Para Ali pikir pada saat itu pun ticlak memiliki kebebasan berpikir. Apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan ajaran gereja, orang yang mengemukakannya akan mendapatkan hukuman berat. Pihak gereja melarang diadakannya penyeliclikan­penyelidikan berdasarkan rasio terhadap agama. Karena itu, kajian terhadap agama/teologi yang tidak berdasarkan ketentuan gereja akan mendapatkan larangan yang ketat. Yang berhak mengadakan penye­lidikan terhadap agama hanyalah pihak gereja. Walaupun demikian, ada juga yang melanggar larangan tersebut dan mereka dianggap orang murtad dan kemudian diaclakan pengejaran (inkuisisi). Pengejaran terhadap orang-orang murtad ini mencapai puncaknya pada saat Paus Innocentius III di akhir abad XII, dan yang paling berhasil dalam pe­ngejaran orang-orang murtad ini di Spanyol.
Ciri-ciri pemikiran filsafat barat abad Pertengahan adalah:
-           cara berfilsafatnya dipimpin oleh gereja;
-           berfilsafat di dalam lingkungan ajaran Aristoteles;
-           berfilsafat dengan pertolongan Augustinus clan lain-lain.

Masa Abad Pertengahan ini juga dapat dikatakan sebagai suatu masa yang penuh dengan upaya menggiring manusia ke dalam kehi­dupan/sistern kepercayaan yang picik dan fanatik, dengan menerima ajaran gereja secara_membabi buta. Karena itu perkembangan ilmu pengetahuan terhambat.
Masa ini penuh dengan dominasi gereja, yang tujuannya untuk membimbing umat ke arah hidup yang saleh. Namun, di sisi lain, dominasi gereja ini tanpa memikirkan martabat dan kebebasan manu­sia yang mempunyai perasaan, pikiran, keinginan, dan cita-cita untuk menentukan masa depannya sendiri.
Masa Abad Pertengahan ini terbagi menjadi dua masa yaitu: masa Patristik dan masa Skolastik. Masa Skolastik t--erb--a-gi menjadi: Skolastik Awal, Skolastik Puncak, clan Skolastik Akhir.

A.  Masa Patristik
Istilah Patristik  berasal dari kata Latin pater atau bapak, yang artinya para pemimpin gereja. Para pemimpin gereja ini dipilih dari golongan atas atau golongan ahli pikir. Dari golongan ahli pikir inflate menimbulkan sikap yang beragam pemikirannya. Mereka ada yang menolak filsafat Yunani dan ada yang menerimanya.
Bagi mereka yang menolak, alasannya karena beranggapan bahwa sudah mempunyai sumber kebenaran yaitu firman Tuhan, dan tidak dibenarkan apabila mencari sumber kebenaran yang lain seperti dari filsafat Yunani. Bagi mereka yang menerima sebagai alasannya ber­anggapan bahwa walaupun telah ada sumber kebenaran yaitu firman Tuhan, tetapi tidak ada jeleknya menggunakan filsafat Yunani hanya diambil metodosnya saja (tats cara berpikir). juga, walaupun filsafat Yunani sebagai kebenaran manusia, tetapi manusia juga sebagai ciptaan Tuhan. jadi, memakai/menerima filsafat Yunani diperbolehkan selama dalam teal-teal tertentu tidak bertentangan dengan agama.
Perbedaan pendapat tersebut berkelanjutan, sehingga orang­orang yang menerima filsafat Yunani menuduh bahwa mereka (orang‑orang Kristen yang menolak filsafat Yunani) itu munafik. Kemudian, orang-orang yang dituduh munafik tersebut menyangkal, bahwa tuduhan tersebut dianggap fitnah. Dan pembelaan dari orang-orang yang menolak filsafat Yunani mengatakan bahwa dirinyalah yang benar-benar hidup sejalan dengan Tuhan.
Akibatnya, muncul upaya untuk membela agama Kristen, yaitu pars apologis (pembela iman Kristen) dengan kesadarannya membela iman Kristen dari serangan filsafat Yunani. Para pembela iman Kristen tersebut adalah Justinus Martir, Irenaeus, Klemens, Odgenes, Gregorius Nissa, Tertullianus, Diosios Arepagos, Au-relius Augustinus.
1.      Justinus Martir
Nama aslinya Justinus, kemudian nama Martir diambil dari istilah "orang-orang yang rela coati hanya untuk kepercayaannya".
Menurut pendapatnya, agama Kristen bukan agama baru karena Kristen lebih tua dari filsafat Yunani, dan Nabi Musa dianggap seba gai awal kedatangan Kristen. Padahal, Musa hidup sebelum Socrates dan Plato. Socrates dan Plato sendiri sebenarnya telah menurunkan hikmahnya dengan memakai hikmah Musa. Selanjutnya dikatakan bahwa filsafat Yunani itu mengambil dari kitab Yahudi. Pandangan ini didasarkan bahwa Kristus adalah logos. Dalam mengembangkan aspek logosnya ini orang-orang Yunani (Socrates, Plato dan lain-lain) kurang memahami apa yang terkandung dan memancar dari logos­nya, yaitu pencerahan sehingga orang-orang Yunani dapat dikatakan menyimpang dari ajaran murni. Mengapa mereka menyimpang? Karena orang-orang Yunani terpengaruh oleh demon atau setan. Demon atau setan tersebut dapat mengubah pengetahuan yang benar kemudian dipalsukan. Jadi, agama Kristen lebih bermutu dibanding dengan filsafat Yunani. Demikian pembelaan Justinus Martir.

2.      Klemens (150 - 215)
Ia juga termasuk pembela Kristen, tetapi ia tidak membenci fil­safat Yunani. Pokok-pokok pikirannya adalah sebagai berikut:
a.       memberikan batasan-batasan terhadap ajaran Kristen untuk mempertahankan diri dari otoritas filsafat Yunani;
b.      memerangi ajaran yang anti terhadap Kristen dengan menggu­nakan filsafat Yunani;
c.       bagi orang Kristen, filsafat dapat dipakai untuk membela iman Kristen, dan memikirkan secara mendalam.
3.         Tertullianus (160 - 222)
Ia dilahirkan bukan dari keluarga Kristen, tetapi setelah melak­sanakan pertobatan ia menjadi gigih membela Kristen secara l&ailk. fa menolak kehadiran filsafat Yunani karena filsafat dianggap sesuatu yang tidak perlu. Baginya berpendapat,-bahwa wahyu Tuhan sudahlah cukup. Tidak ada-hubungan antara teol6gi dengan filsafat; tid-ak-ada hubungan antara Yerussalem (pusat agama) dengan Yunani (pusat filsafat), tidak ada hubungan antara gereja dengan akademi, tidak ada hubungan antara Kristen dengan penemuan baru.
Selanjutnya ia mengatakan bahwa clibanding dengan cahaya Kristen, segala yang dikatakan oleh para filosof Yunani dianggap tidak penting. Apa yang dikatakan oleh para filosof Yunani tentang kebenaran pada hakikatnya sebagai kutipan dari kitab Suci. Akan tetapi karena kebodohan para. filosof, kebenaran kitab suci tersebut dipalsukan.
Akan tetapi lama kelamaan, Tertullianus akhirnya menerima juga filsafat Yunani sebagai cars berpikir yang rasional. Alasannya, bagai­manapun juga berpikir yang rasional diperlukan sekali. Pada saat itu, karena pemikiran filsafat yang diharapkan tidak dibakukan, saat itu filsafat hanya mengajarkan pemikiran-pemikiran ahli pikir Yunani saja, sehingga akhirnya Tertullianus mellihat filsafat hanya dimensi praktisnya saja, dan ia menerima filsafat sebagai cara atau metode berfikir untuk memikirkan kebenaran keberadaan Tuhan beserta filsafatnya.
4.         Augustinus (354-430)
Sejak mudanya ia telah mempelajari bermacam-macam aliran filsafat, antara lain Platonisme dan Skeptisme. Ia telah diakui keberhasilannya dalam membentuk filsafat Kristen yang berpengaruh besar dalam filsafat abad pertengahan sehingga ia dijuluki sebagai guru skolastik yang sejati. Ia seorang tokoh besar di bidang teologi dan filsafat.
Setelah mempelajari aliran skpetisme, ia kemudian tidak menyetujui atau menyukainya, karena di dalamnya terdapat pertentangan batiniah. Orang dapat meragukan segalanya, tetapi orang tidak dapat meragukan bahwa ia ragu-ragu. Seseorang yang ragu-ragu sebenarnya ia berpikir dan seseorang yang berpikir sesungguhnya ia berada (eksis).
Menurut pendapatnya, daya pemikiran manusia ada batasnya, tetapi pikiran manusia dapat mencapai kebenaran dan kepastian yang tidak ada batasnya, yang bersifat kekal abadi. Artinya, akal fikir manusia dapat berhubungan dengan sesuatu kenyataan yang lebih tinggi.
Akhirnya, ajaran Augustinus berhasil menguasai sepuluh abad, dan mempengaruhi pemikiran Eropa. Perlu diperhatikan bahwa para pemikir Patristik itu sebagai pelopor pemikiran skolastik. Mengapa ajaran Augustinus sebagai akal dari skolastik dapat mendominasi hampir sepuluh abad? Karena ajarannya lebih bersifat sebagai metode daripada sebuah sistem sehingga ajarannya mampu meresap sampai masa skolastik.

B.  Masa Skolastik
Istilah skolastik adalah kata sifat yang berasal dari kata school, yang berarti sekolah. jadi, skolastik berarti aliran atau yang berkait­an dengan sekolah. Perkataan skolastik merupakan corak khas dari sejarah filsafat abad pertengahan.
Terdapat, beberapa pengertian dari corak khas skolastik, sebagai berikut.
1.       Filsafat Skolastik adalah filsafat yang mempunyai corak semata­-mata agama. Skolastik ini sebagai bagian dari kebudayaan abad pertengahan yang religius.
2.       Filsafat Skolastik adalah filsafat yang mengabdi pada teologi atau filsafat yang rasional mernecahkan persoalan-persoalan megenai berpikir, sifat ada, kejasmanian, kerohanian, baik buruk. Dari rumusan tersebut kemudian muncul istilah skolastik Yahudi, sko­lastik Arab dan lain-lainnya.
3.       Filsafat Skolastik adalah suatu sistem filsafat yang termasuk jajaran pengetahuan alam kodrat, akand-i-m-asukkan ke dalam bentuk sintesis yang lebih tinggi antara kepercayaan dan akal.
4.       Filsafat Skolastik adalah filsafat Nasrani karena banyak dipe­ngaruhi oleh ajaran gereja .

Filsafat Skolastik ini dapat berkembang clan tumbuh karena be­berapa faktor berikut.
1.      Faktor Religius
Faktor religius dapat mempengaruhi corak pemikiran filsafatnya. Yang dimaksud dengan faktor religius adalah keadaan lingkungan saat itu yang berperikehidupan religius. Mereka beranggapan bahwa hidup di dunia ini suatu perjalanan ke tanah suci Yerussalem, dunia ini bagaikan negeri asing dan sebagai tempat pembuangan limbah air mats saja (tempat kesedihan). sebagai dunia yang menjadi tanah airnya adalah surga. Manusia tidak dapat sampai ke tanah airnya (surga) dengan kemampuannya sendiri, sehingga harus ditolong. Karena manusia itu menurut sifat kodratnya mempunyai cela atau kelemahan yang dilakukan (diwariskan) oleh Adamomereka juga berkeyakinan bahwa Isa anak Tuhan berperan sebagai pembebas dan pemberi bahagia. Ia akan memberi pengampunan sekaligus meno­longnya. Maka, hanya dengan jalan pengampunan inilah manusia dapat tertolong agar dapat mencapai tanah airnya (surga). Anggapan dan keyakinan inilah yang dijadikan dasar pemikiran filsafatnya .1
2.   Faktor Ilmu Pengetahuan
Pada saat itu telah banyak didirikan lembaga pengajaran yang diupayakan oleh biara-biara, gereja, ataupun dari uarga istana. Kepustakaannya diambilkan dari para penulis Latin, Arab (Islam), dan Yunani.
Masa Skolastik terbagi menjadi tiga periode, yaitu:
a.          Skolastik Awal, berlangsung dari tahun 800-1200;
b.         Skolastik Puncak, berlangsung dari tahun 1200-1300;
c.          Skolastik Akhir, berlangsung dari tahun 1300-1450.

a.      Skolastik Awal
Sejak abad ke-5 hingga ke-8 Masehi, pemikiran filsafat Patristik mulai merosot, terlebih lagi pada abad ke-6 dan 7 dikatakan abad kacau. Hal ini disebabkan pada saat itu terjadi serangan terhadap Romawi sehingga kerajaan Romawi beserta peradabannya ikut runtuh yang telah dibangun selama berabad-abad.
Baru pada abad ke-8 Masehi, kekuasaan berada di bawah Karel Agung (742 - 814) dapat memberikan suasana ketenanigar-TaFam bidang politik, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan, terffiasuvEfii- dbpan manusia Berta p-emikiran filsafat yang semuanya menampak­kan mulai adanya kebangkitan. Kebangkitan inilah yang merupakan kecemerlangan abad pertengahan, di mana arch pemikirannya berbeda sekali dengan sebelumnya.
Saat ini merupakan zaman barn bagi bangsa Eropa. Hal ini ditan­dai dengan skolastik yang di dalamnya banyak diupayakan pengem­bangan ilmu pengetahuan di sekolah-sekolah. Pada mulanya skolastik ini timbul pertama kalinya di biara Italia Selatan dan akhirnya sampai berpengaruh ke Jerman dan Belanda.
Kurikulum pengajarannya meliputi studi duniawi atau arses liberales, meliputi tata bahasa, retorika, dialektika (Beni berdiskusi), ilmu hitung, ilmu ukur, ilmu perbintangan, dan musik.
Di antara tokoh-tokohnya adalah Aquinas (735-805), Johannes Scotes Eriugena (815 - 870), Peter Lombard (1100 - 1160), John Saabs=-- bury (1115 - 1180), Peter Abaelardus (1079 - 1180).
1)      Peter Abaelardus (1079 - 1180)
Ia dilahirkan di Le Pallet, Prancis. Ia mempunyai kepribadian yang keras dan pandangannya sangat tajam sehingga sering kali bertengkar dengan pars ahli pikir dan pejabat gereja. Ia termasuk orang konseptualisme dan sarjana terkenal dalam sastra romantik, sekaligus sebagai rasionalistik, artinya peranan akal dapat menundukkan ke­kuatan iman. Iman harus mau didahului akal. Yang harus dipercaya adalah apa yang telah disetujui atau dapat diterima oleh akal.
Berbeda dengan Anselmus yang mengatakan bahwa berpikir harus sejalan dengan iman, Abaelardus memberikan alasan bahwa berpikir itu berada di luar iman (di luar kepercayaan). Karena itu ber­pikir merupakan sesuatu yang berdiri sendiri. Hal ini sesuai dengan metode dialektika yang tanpa ragu-ragu ditunjukkan dalam teologi, yaitu bahwa teologi harus memberikan tempat bagi semua bukti­bukti. Dengan demikian, dalam teologi itu iman hampir kehilangan tempat. Ia mencontohkan, seperti ajaran Trinitas juga berdasarkan pada bukti-bukti, termasuk bukti dalam wahyu Tuhan.'
2)      Skolastik Puncak
Masa ini merupakan kejayaan skolastik yang berlangsung dari tahun 1200 - 1300 dan masa ini juga disebut masa berbunga. Masa itu Ran-dai dengan munculnya universitas-universitas dan ordo-ordo, yang secara bersama . -sama ikut menyelenggarakan atau memajukan ilmu pengetahuan, di samping juga peranan universitas sebagai sumber atau pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Berikut ini beberapa faktor mengapa masa skolastik mencapai pada puncaknya.
a)         Adanya pengaruh dari Aristoteles, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina sejak abad ke-12 sehingga sampai abad ke-13 telah tumbuh menjadi ilmu pengetahuan-yang luas.
b)         Tahun 1200 didirikan Universitas Almamater di Prancis. Univer­sitas ini merupakan gabungan dari beberapa sekolah. Almamater inilah sebagai awal (embrio) berdirinya Universitas di Paris, di Oxford, di Mont Pellier, di Cambridge dan lain-lainnya.
c)         Berdirinva ordo-ordo. Ordo-ordo inilah yang muncul karena banyaknya perhatian orang terhadap ilmu pengetahuan sehingga menimbulkan dorongan yang karat untuk memberikan suasana yang semarak pada abad ke-13. Hal ini akan berpengaruh terhadap kehidupan kerohanian di mana kebanyakan tokoh-tokohnya memegang peran di bidang filsafat dan teologi seperti Albertus de Grote, Thomas Aquinas, Binaventura, J.D. Scotus, William Ocham.

Upaya Kristenisasi Ajaran Aristoteles
Pada mulanya hanya sebagian ahli pikir yang membawa dan meneruskan ajaran Aristoteles, akan tetapi upaya ini mendapatkan perlawanan dari Augustinus. Hal ini disebabkan oleh adanya suatu anggapan bahwa ajaran Aristoteles yang mulai dikenal pada abad ke-12 telah diolah dan tercemar oleh ahli pikir Arab (Islam). Hal ini dianggap sangat membahayakan ajaran Kristen. Keadaan yang demi­kian ini bertolak belakang bahwa ajaran Aristoteles masih diajarkan di fakultas-fakultas, bahkan dianggapnya sebagai pelajaran yang pen­ting dan harus dipelajari.
Untuk menghindari adanya pencemaran tersebut di atas (dari ahli pikir Arab atau Islam), Albertus Magnus dan Thomas Aquinas sengaja menghilangkan unsur-unsur atau selipan dari Ibnu Rusyd, dengan menerjemahkan langsung dari bahasa Latinnya. Juga, bagian­bagian ajaran Aristoteles yang bertentangan dengan ajaran Kristen diganti dengan teori-teori barn yang bersumber pada ajaran Aristo­teles dan diselaraskan dengan ajaran Kristen. Langkah terakhir, dari ajaran Aristoteles telah diselaraskan dengan ajaran ilmiah (suatu sintesis antara kepercayaan dan akal).
Upaya Thomas Aquinas ini sangat berhasil dengan terbitnya sebuah buku Summa Theologise dan sekaligus merupakan bukti bahwa ajaran Aristoteles telah mendapatkan kemenangan dan sangat mem­pengaruhi seluruh perkembangan skolastik.
1.         Albertus Magnus (1203- 1280)
Di samping sebagai biarawan, Albertus Magnus juga dikenal sebagai cendekiawan abad pertengahan. Ia lahir dengan nama Albert von Bollstadt yang juga dikenal sebagai "doktor universalis" dan "doktor magnus", kemudian bernama Albertus Magnus (Albert the Great). Ia mempunyai kepandaian luar biasa. Di universitas Padua ia belajar artes liberates, ilmu-ilmu pengetahuan slam, kedokteran, fil­safat Aristoteles, belajar teologi di Bulogna, dan masuk ordo Domi­nican tahun 1223, kemudian masuk ke Koln menjadi dosen filsafat dan teologi.
Terakhir ia diangkat sebagai uskup agung. Pola pemikirannya meniru Ibnu Rusyd dalam mentilis tentang Aristoteles. Dalam bidang ilmu pengetahuan, ia mengadakan penelitian dalam ilmu biologi dan ilmu kimia.11
2.      Thomas Aquinas (1225-1274)
Nama sebenarnya adalah Santo Thomas Aquinas, yang artinya Thomas yang suci dari Aquinas. Di samping sebagai ahli pikir, ia juga seorang dokter gereja bangsa Italia. Ia lahir di Rocca Secca, Napoli, 78
                  
Filsafat Umum
Italia. Ia merupakan tokoh terbesar Skolastisisme, salah seorang suci gereja Katolik Romawi dan pendiri aliran yang dinyatakan menjadi filsafat resmi gereja Katolik. Tahun 1245 belajar pada Albertus Magnus. Pads tahun 1250 ia menjadi guru besar dalam ilmu 'agama di Prancis clan tahun 1259 menjadiguru besar dan penasihat istana NUS.12
Karya Thomas Aquinas telah menandai taraf yang tinggi dari aliran Skolastisisme pada abad pertengahan.
Ia berusaha untuk membuktikan bahwa iman Kristen secara penuh dapat dibenarkan dengan pemikiran logis. Ia telah menerima pemikiran Aristoteles sebagai otoritas tertinggi tentang pemikirannya yang logis.
Menurut pendapatnya, semua kebenaran asalnya dari Tuhan. Kebenaran diungkapkan dengan jalan yang berbeda-beda, sedangkan iman berjalan di luar jangkauan pemikiran. Ia mengimbau agar orang­orang untuk mengetahui hukum alamiah (pengetahuan) yang ter­ungkap dalam kepercayaan. Tidak ads kontradiksi antara pemikiran dan iman. Semua kebenaran mulai timbul secara ketuhanan walau­pun iman diungkapkan lewat beberapa kebenaran yang berada di luar kekuatan pikir.
Thomas telah menafsirkan pandangan bahwa Tuhan sebagai Tukang Boyong yang tidak berubah dan yang tidak berhubungan de­ngan atau tidak mempunyai pengetahuan tentang kejahatan-kejahatan di dunia. Tuhan tidak pernah mencipta dunia, tetapi zat clan pemikir­annya tetap abadi.
Selanjutnya ia katakan bahwa iman lebih tinggi dan berada di luar pemikiran yang berkenaan sifat Tuhan dan slam semesta. Timbulnya pokok persoalan yang aktual clan praktis dari gagasannya adalah "pemikirannya dan kepercayaannya telah menemukan kebenaran mutlak yang harus diterima oleh orang-orang lain". Pandangannya inilah yang menjaclikan perlawanan kaum Protestan karena sikapnya yang otoriter.
Thomas sendiri menyadari bahwa tidak dapat menghilangkan unsur-unsur Aristoteles. Bahkan ia menggunakan ajaran Aristoteles, tetapi sistem pemikirannya berbeda. Masuknya unsur Aristoteles ini didorong oleh kebijakan pimpinan gereja Paus Urbanus V (1366) yang memberikan angin segar untuk kemajuan filsafat. Kemudian Thomas mengadakan Langkah-Langkah sebagai berikut.
Langkah pertama, Thomas menyuruh teman sealiran Willem van Moerbeke untuk membuat terjemahan baru yang langsung dari Yunani. Hal ini untuk melawan Aristotelianisme yang berorientasi pada Ibnu Rusyd, clan upaya ini mendapat dukungan dari Siger van Brabant.
Langkah kedua, pengkristenan ajaran Aristoteles dari dalam. Bagian-bagian yang bertentangan dengan spa yang dianggap Kristen bertentangan sebagai firman Aristoteles, tetapi diupayakan selaras dengan ajaran Kristen.
Langkah ketiga, ajaran Aristoteles yang telah dikristenkan dipakai untuk membuat sintesis yang lebih bercorak ilmiah (sintesis deduktif antara iman clan akal). Sistem barunya itu untuk menyusun Summa Theologise.

b.      Skolastik Akhir
Masa ini ditandai dengan adanya rasa jemu terhadap segala macam pemikiran filsafat yang menjadi kiblatnya sehingga memperlihatkan stagnasi (kemandegan). Di antara tokoh-tokohnya adalah William Ockham (1285 - 1349), Nicolas Cusasus (1401-1464).
1)         William Ockham. (1285 - 1349)
Ia merupakan ahli pikir Inggris yang beraliran skolastik. Karena terlibat dalam pertengkaran umum dengan Paus John XXII, ia dipenjara di Avignon, tetapi ia dapat melarikan diri dan mencari perlindungan pada Kaisar Louis IV. Ia menolak ajaran Thomas dan mendalilkan bahwa kenyataan itu hanya terdapat pada benda-benda satu demi satu, dan hal-hal yang umum itu hanya tanda-tanda abstrak.
Menurut pendapatnya, pikiran manusia hanya dapat mengeta­hui barang-barang atau kejadian-kejadian individual. Konsep-konsep atau kesimpulan-kesimpulan umum tentang alam hanya merupakan abstraksi buatan tanpa kenyataan. Pemikiran yang demikian ini, dapat dilalui hanya lewat intuisi, bukan lewat logika. Di ramping itu, ia membantah anggapan skolastik bahwa logika dapat membuktikan doktrin teologis. Hal ini akan membawa kesulitan dirinya yang pada waktu itu sebagai penguasanya Paus John XXII.
2)         Nicolas Cusasus (1401 - 1464)
Ia sebagai tokoh pemikir yang berada paling akhir masa skolastik. Menurut pendapatnya, terdapat tiga cars untuk mengenal, yaitu lewat indra, akal, dan intuisi. Dengan indra kita akan mendapatkan penge­tahuan tentang benda-benda berjasad, yang sifatnya tidak sempurna. Dengan akal kita akan mendapatkan bentuk-bentuk pengertian yang abstrak berdasar pada sajian atau tangkapan indra. Dengan intuisi, kita akan mendapatkan pengetahuan yang lebih tinggi. Hanya dengan intuisi inilah kita akan dapat mempersatukan apa yang oleh akal tidak dapat dipersatukan. Manusia seharusnya menyadari akan ke­terbatasan akal, sehingga banyak hal yang seharusnya dapat diketahui.
Karena keterbatasan akal tersebut, hanya sedikit saja yang dapat diketahui oleh akal. Dengan intuisi inilah diharapkan akan sampai pada kenyataan, yaitu suatu tempat di mans segala sesuatu bentuknya menjadi larut, yaitu Tuhan.
Pemikiran Nicolaus ini sebagai upaya mempersatukan seluruh pemikiran abad pertengahan, yang dibuat ke suatu sintesis yang lebih lugs. Sintesis ini mengarah ke masa depan, dari pemikirannya ini ter­sirat suatu pernikiran para humanis.
c.       Skolastik Arab (Islam)
Dalam bukunya, Hasbullah Bakry menerangkan bahwa istilah skolastik Islam jarqpg, dipakai di kalangan umat Islam. Istilah yang biasa  dipakai adalah ilmu kalam atau filsafat islitn7balarn pemba­hasan antara ilmu kalam dan filsafat Islam biasanyadipisahkan.
Tokoh-tokoh yang termasuk para ahli pikir Islam (pemikir Arab atau,Islam-,Rrabi, Ibnu Sina, Al-Kindi,pada masa skolastik). yaitu Al Ibnu Rusyd. Peranan para ahli pikir tersebut besar sekali, yaitu sebagai berikut,
1)            Sampai pertengahan abad ke-12 orang-orang Barat belum per­nah mengenal filsafat Aristoteles sehingga' yang  dikenal hanya bukuLogtka Aristoteles.
2)            Orang-orang Barat itu mengenal Aristoteles berkat tulisan dari para ahli pikir Islam, terutamaJari Ibnu Rusyd' sehingga. Ibnu Rusyd dikatakan sebagai guru terbesar para ahli pikir Skolastik Latin.
3)            Skolastik Islamlah yang membawakan perkembangan Skolastik Latin.
Tidak hanya dalam pemikiran filsafat saja, tetapi para ahli piker Islam tersebut memberikan sumbangan yang tidak kecil bagi Eropa yaitu dalam bidang ilmu pengetahuan. Para ahli pikir Islam sebagian menganggap bahwa filsafat Aristoteles benar, Plato dan Alquran benar, mereka mengadakan perpaduan dan sinkretisme antara agama dan filsafat. Pemikiran-pemikiran tersebut kemudian masuk ke Eropa yang merupakan sumbangan Islam paling besar.11
Dengan demikian, dalam pernbahasan skolastik Islam terbagi menjadi dua periode, yaitu:
1.        Periode Mutakallimin (700 - 900);
2.        Periode Filsafat Islam (850 - 1200).
Banyak buku filsafat dan sejenisnya mengenai peranan para ahli pikir Islam atas kemajuan dan peradaban Barat sengaja disembunyikan karena mereka (Barat) tidak mengakui secara terns terang jasa para ahli pikir Islam itu dalam mengantarkan kemoderenan Barat.

C.  Masa Peralihan
Setelah abad pertengahan berakhir sampailah pada masa per­alihan yang diisi dengan gerakan kerohanian yang, bersifat pemba­haruan. Zaman-peralihan ini merupakan embrio masa modern. Masa peralihan ini ditandai dengan munculnya renaissance, humanisme, dan reformasi yang berlangsung antara abad ke-14 hingga ke-16.
1.      Renaissance
Renaissance atau kelahiran kembali di Eropa ini merupakan suatu gelombang kebudayaan dan pemikiran yang dimulai di Italia, kemudian di Prancis, Spanyol, dan selanjutnya hingga menyebar ke seluruh Eropa. Di antara tokoh-tokohnya adalah Leonardo da Vinci, Michelangelo, Machiavelli, dan Giordano Bruno.
2.      Humanisme
Humanisme pada mulanya dipakai sebagai suatu pendirian di kalangan ahli pikir Renaissance yang mencurahkan perhatiannya terhadap pengajaran kesusastraan Yunani dan Romawi, Berta peri­kemanusiaan. Kemudian, Humanisme berubah fungsinya menjadi gerakan untuk kembali melepaskan ikatan dari gereja dan berusaha menemukan kembali sastra Yunani atau Romawi. Di antara para tokohnya adalah Boccaccio, Petrarcus, Lorenco Vallia, Erasmus, dan Thomas Morre.
3.      Reformasi
Reformasi merupakan revolusi keagamaan di Eropa Barat pada abad ke-16. Revolusi tersebut dimulai dari gerakan terhadap perbaikan Fe~d`aan gereja Katolik. Kemudian berkembang menjadi asas-asas Protestantisme. Para tokohnya antara lain jean Calvin dan Martin Luther.
Akhirnya dalam filsafat Renaissance salah satu unsur pokoknya adalah manusia. Suatu pemikiran yang sejajar dengan Renaissance. Pemikiran yang ingin menempatkan manusia pada tempat yang sentral dalam pandangan kehidupan.



BAB III
PEMIKIRAN FILSAFAT DI TIMUR

A.     Filsafat India
India adalah suatu wilayah yang dibatasi pegunungan yang terjal. Tidak ada jalan lain kecuali melalui lintasan Kaibar. Pada zaman kuno, daerah India sulit dimasuki oleh musuh sehingga pendu­duknya dapat menikmati kehidupan yang tenang dan banyak peluang untuk memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan kerohanian.
Filsafat India berkembang dan menjadi satu dengan agama se­hingga pemikiran filsafatnya bersifat religius dan tujuan akhirnya adalah mencari keselamatan akhirat.
Filsafat India terbagi menjadi lima zaman berikut ini.
1.      ZamanWeda (1500-600 SM). Zaman ini diisi oleh peradaban bangsa Arya. Pada saat itu barn muncul benih pemikiran filsafat yang berupa mantera-mantera, pujian keagamaan yang terdapat dalam sastra Brahmans dan Upanishad.
2.      Zaman Wiracarita (600-200 SM). Zaman ,ini diisi oleh perkem­bangan sistem pemikiran filsafat yang berupa Upanishad. Ide pemikiran filsafat tersebut muncul berupa tulisan-tulisan tentang kepahlawanan clan tentang hubungan antara manusia dengan dewa.
3.      Zaman Sastra Sutra (200 SM - 1400 M). Zaman ini diisi oleh semakin banyaknya bahan-bahan pemikiran filsafat (sutra), ditandai dengan lahirnya tokoh-tokoh seperti Sankara, Ramanuja, Madhwa, dan lainnya.
4.      Zaman kemunduran (1400 - 1800 M). Zaman ini diisi oleh pe­mikiran filsafat yang mandul karena para ahli pikir hanya me­nirukan pemikiran filsafat yang lampau. Timbulnya keadaan ini disebabkan oleh pertemuan antara kebudayaan Barat dengan pemikiran India sehingga menimbulkan reaksi hebat dari para pemikir India.
5.      Zaman Pembaharuan (1800 - 1950 M). Zaman ini diisi oleh kebangkitan pemikiran filsafat India. Pelopornya adalah Ram Mohan Ray, seorang pembaru yang menclapatkan pencliclikan di Barat.

1.      Zaman Weda (1500 - 600 SM)
Dikatakan zaman Weda karena cumber benih pemikiran filsafat berasal dari kitab-kitab Weda (Rig Weda, Sama Weda, Yajur Weda, dan Atharwa Weda). Benih pemikiran filsafat tersebut dalam mantera "di atas air samudera mengapung telor clunia, kemudian pecah menjadi wismakarman sebagai anak pertama alam semesta." "Dunia tersusun menjadi tiga bagian, yaitu surga, bumf, dan langit, di mans ketiga bagian tersebut mempunyai dewa sendiri-sendiri." "Jiwa manusia tidak dapat coati." "Mereka yang masuk surga adalah orang-orang yang soleh dan hidup baik."
Orang-orang Arya menyembah pads dewa-dewa seperti mata­hari, bulan, bintang dan lainnya. Dewa secara harfiah berarti terang, karena itu pengertian dewa adalah bends yang terang yang dianggap sebagai kekuatan slam yang mempunyai person. Dewa Indra diang­gap sebagai dewa nasional, karena Dewa Indra berarti bangsa Dasyu. Dewa lain yang dianggap penting adalah Dewa Waruna, yaitu dewa Yang menguasai slam semesta, yang sekaligus sebagai dewa moral dan dewa segala dewa.
Dalam sastra Brahman disebutkan bahwa ketika bangsa Arya telah menetap di lembah Gangga, benih pemikiran filsafat berupa "korban". Korban ini dianggap penting dalam kehidupan manusia, Yang dipersembahkan kepada imam. Misalnya, korban diaclakan agar matahari tetap bersinar sehingga dengan adanya korban ini kehidupan masyarakat bersifat ritualistic.
Pada tahun 700 SM benih pemikiran filsafat pembahasannya lebih mendalam lagi, bersumber pads sastra Upanishad. Keaclaan yang demikian ini muncul tatkala kaum Ksatria memberontak kepada kaum Brahman. Pemberontakan ini karena ajaran Upanishad banyak Yang diselewengkan. Kedalaman pemikiran filsafat terbukti dari anggapan dahulu (zaman Brahman), Dewa Brahman hanya dianggap sebagai asas pertama slam semesta. Namun, sekarang (zaman Upa­nishad) Dewa Brahman dianggap sebagai dewa yang transenden clan immanen. Jugs, Dewa Brahman dianggap berada dalam slam semesta dan diri manusia, yang terjelma berupa unsur api.
2.      Zaman Wiracarita (600 SM- 200 M)
Sebagai latar belakang zaman ini adanya krisis politik, keme­rosotan moral atau kepercayaan terhadap para dewa, akibat dari kaum penjajah (pendatang). Kemudian banyak orang mencari ketenangan, dan muncullah para ahli pikir untuk menuangkan pemikirannya, se­hingga terjadilah pertentangan antarpemikiran. Timbullah aliran yang bertuhan (Baghawadgita), aliran yang tidak bertuhan Uainisme dan Buddhisme), juga aliran yang spekulatif (Saddarcana).
Jainisme timbul sebagai reaksi zaman Brahman. Pelopornya adalah Wardhamana (abad lee-6 SM). Sementara. itu, Buddhisme (yang dicerahi) merupakan sebutan untuk tokoh rohani yang menjelma pads seseorang. Jelmaan terakhir Buddhisme adalah Sidharta, yang lahir tahun 567 SM di Kapilawastu.
Baghawadgita adalah sebuah kitab yang ditulis pads abad lee-3 SM, pusat penyebarannya di Gangga Barat. Isi kitabnya adalah uraian ajaran Kresna pads Arjuna tentang bhakti (penyerahan diri).
3.    Zaman Sastra Sutra (200 - sekarang)
Zaman ini juga disebut zaman Skolastik. Kitab yang muncul pertama kali adalah kitab Wedangga yang uraiannya berbentuk prosa, disusun secara singkat agar mudah dihafal atau diamalkan. juga tim­bul sutra-sutra yang bertentangan dengan Weda, dan sutra tersebut dijadikan sumber pemikiran filsafat.
Sistem Filsafat India, terbagi menjadi enam sistem berikut.
a.          Nyala, yaitu membicarakan bagian umum dan metode yang di- pakai dalam penyelidikan, yaitu metode kritis. Sistem ini juga digunakan untuk mencari hal yang benar dari ayat-ayat Weda, penulisnya Gautama (abad ke-4 SM).
b.         Waisesika, yaitu kitab yang bersumber pads Waisesika Sutra. Sistem pemikirannya bersifat metafisik. Ajaran pokoknya mem­bicarakan tentang dharma yaitu uraian tentang kesejahteraan dunia dan memberikan pelepasan. Ajaran yang pokok lainnya adalah tentang padharta, yaitu membicarakan kategori yang ads: substansi, kualitas, aktivitas, sifat umum, sifat perseorangan, pelekatan, dan ketidakadaan. Penulisnya adalah Khanada.
c.          Sakha, artinya pemantulan. Aliran ini mengemukakan bahwa untuk merealisasikan kenyataan akhir filsafat diperlukan penge­tahuan. Pokok ajarannya, terdapat dua zat'asasi yang bersama­sama membentuk realitas dunia, yaitu roh dan bends (purusa dan prakerti). Pendirinya adalah Sakha Kapila (abad ke-5 SM).
d.         Yoga, yaitu suatu cars untuk mengawasi pikiran, agar kesadaran yang biasa menjadi luar biasa. Pendirinya Patanjali.
e.          Purwa Wimansa, yaitu sistem inilah yang benar-benar mendasar­kan pads kitab Weda. Sistem ini dimaksudkan untuk penyelidikan sistematis pads bagian pertama Weda. Pokok ajarannya, mene­gakkan wibawa kitab Weda dan menunjukkan bahwa kitab Weda berisi upacara ritual.
f.           Wedanta yaitu suatu sistem yang membicarakan bagian kitab Weda (yang terakhir). Kitab ini merupakan suatu kesimpulan kitab Weda. Sistem Wedanta ini bersarnaan dengan zaman Sutra (= zaman Skolastik) yang ditandai dengan munculnya tokoh­tokoh Sankara, Ramanuja, Madhwa. Mereka ini telah berhasil menyusun kembali ajaran kuno yang dapat memberikan peluang dalam perkembangan pemikiran filsafat India.

Tokoh-tokoh tersebut di atas mengemukakan ajaran sebagai berikut.
1)         Sankara (788 - 820) merupakan pengajar aliran Adwaita. Pokok ajarannya adalah bahwa "Brahman adalah nyata. jiwa perorangan adalah Brahman. Brahman tidak rangkap. Dunia itu tidak nyata. jiwa tidak berbeda dengan Brahman."
2)         Ramanuja (1017 - 1137), is berupaya mempersatukan agama Wisnu dengan Wedanta. Sumber ajarannya Wisista Waits (kitab Upanishad). Menurutnya, terdapat tiga kenyataan yang tertinggi: Tuhan (Iswara), jiwa (cit), dan benda (acit). Hanya Tuhanlah kenyataan yang bebas.
3)         Madwa (1199 - 1278), ia sangat berpengaruh di India Barat. Pokok ajarannya, "ada", merupakan kenyataan yang jamak (dualisme). Segala sesuatu di dunia ini beraneka ragam. Terdapat lima per­bedaan, yaitu antara Tuhan dan jiwa; antara jiwa (yang satu) dan jiwa (yang lain); antara Tuhan dan benda; antara jiwa dan benda; antara benda (yang satu) dan benda (yang lain).

4.      Filsafat India pada Akhir Abad ke-20
Mulai abad ke-7 sampai abad ke-14, karena jasa Sankara, ajaran Wedanta mendominasi pemikiran filsafat India. Akan tetapi, setelah abad ke-14 pemikiran filsafat mengalami kemunduran hingga abad ke-18. Kemunduran ini sebenarnya telah muncul mulai abad ke-12 saat kedatangan agama Islam di India. Tokohnya Kabir (1440 - 1518) ;2 yang berupaya untuk menyingkirkan unsur-unsur yang melemahkan perjuangan Islam dan mencoba membuat suatu sintesis antara Islam dengan Hindu. Kemudian, diteruskan oleh anaknya Nanak (1469 - ...)3 yang mempunyai sifat lebih ekstrem.
Setelah abad ke-19, pemikiran filsafat India bangkit berkat sen­tuhan kebudayaan Barat. Pelopornya adalah Ram Mohan Ray (1777 -1833). Ia seorang Hindu yang memperoleh pendidikan Barat. Gerak­annya disebut Brahma Samaj, yang mempunyai sikap keras terhadap Kristen. Penggantinya Rabindranath Tagore (1861 — 1941), seorang pujangga, ahli filsafat, dan pendidik India, kemudian disusul Kesab Chandra Sen (1838 — 1884), akhirnya Brahman Samaj pecan karena terpengaruh Kristen.
Tahun 1875 muncul gerakan pembaru pemikiran filsafat India, yaitu Arya Samaj sebagai pendirinya Awami D. Saraswati (1824 —1884). Gerakan ini bertujuan untuk mengadakan pembaruan terhadap agama Hindu dan mencari sintesis yang kuno dengan yang barn, antara Barat dan Timur. Seorang pembaharu yang lain adalah Sri Ramakresna (1834 - 1886), ia seorang imam kuil di Calcutta. Ajaran­nya berpangkal pada bermacam-macam kepercayaan yang ada, yang sebenarnya menuju pada satu tujuan perealisasian Tuhan.
Seorang pembaru lain adalah Mahatma Gandhi (1869 - 1948). Ajarannya, untuk _mencari kempangan harus dengan Satyagraha (kekuatan kebenaran). Artinya, orang harus memegang teguh kebe­naran walaupun pada saat-saat membahayakan. Kejahatan harus dilawan dengan kebaikan. Ajarannya itu diberikan karena ia terjun di dunia politik.
Terdapat dua orang pembaru, yaitu Sri Aurobindo (1872-1950), dan Sri Rama Maharsi (1870-1950)'

B.     Filsafat Tiongkok
Filsafat Tiongkok dapat dikatakan hidup di dalam kebudayaan Tiongkok. Hal ini disebabkan, karena pemikiran filsafat selalu di­berikan dalam setiap jenjang pendidikan dari sejak pendidikan dasar (anak) sampai pendidikan tinggi.
Terdapat empat bush buku yang dianggap sebagai kitab suci rakyat Tiongkok, yaitu:
1.      Analecta Confucius;
2.      Karangan-karangan Mencius;
3.      Ilmu Tinggi (The Great Learning);
4.      Ajaran Tentang Jalan Tengah (Doctrine of the Mean).
Menurut Fung Yu Lan, seorang ahli sejarah Tiongkok, di Tiongkok terdapat tiga agama, yaitu Confucianisme, Taoisme, dan Buddhisme. Dikemukakan lagi bahwa dalam kehidupan rakyat Tiongkok kegiatan keagamaan tidaklah dianggap, penting, yang penting adalah etika ter­utama dari Confucius.
Menurut rakyat Tiongkok, fungsi filsafat dalam kehidupan ma­nusia adalah untuk mempertinggi tingkat rohani. Artinya, rohani manusia diharapkan dapat menjulang tinggi untuk meraih nilai-nilai yang lebih tinggi daripada nilai-nilai moral. Menurut Mencius, "orang bijaksana adalah sebagai puncak hubungan antarmanusia.
Dari sudut moral, orang yang arif bijaksana adalah manusia yang paling sempurna di dalam suata masyarakat. Menurut kebiasaan masyarakat Tiongkok kewajiban (bukan hak) memungkinkan ma­nusia untuk memperoleh watak yang digambarkan sebagai orang arif bijaksana. Mempelajari filsafat agar orang dapat berkembang menjadi "manusia" dan supaya tidak menjadi "orang macam terten­tu". Artinya, apabila orang mempelajari "bukan filsafat", memung­kinkan orang untuk berkembang menjadi orang macam tertentu (some special kind of man).
1.      Latar Belakang Filsafat Tiongkok
Banyak aspek yang melatarbelakangi pemikiran filsafat Tiongkok, seperti aspek-aspek geografis, ekonomi, sikap terhadap alam, system kekerabatan dan lainnya. Tiongkok' adalah suatu negeri daratan (con­tinental) yang lugs sekali, tidak pernah melihat lautan. Berbeda dengan Yunani yang merupakan negeri maritim, rakyatnya mengandalkan pertanian. Sebagai negeri agraris yang selalu mengandalkan potensi atau hasil tanahnya. Hal ini dibuktikan bahwa keunggulan kerajaan Tiongkok kuno ditentukan oleh keahlian bertani dan berperang, seperti kerajaan Chin pada abad ke-4 SM, yang untuk pertama kalinya dapat mempersatukan daratan Tiongkok.
Dalam tradisi Tiongkok, jenis pekerjaan yang mendapat tempat terhormat adalah menuntut ilmu (belajar) dan mengolah tanah (ber­tani). jenis pekerjaan ini akan memengaruhi sikap mereka terhadap alam dan pandangan hidupnya. Para petani mempunyai sifat khusus "kesederhanaan", dan mereka selalu menerima dan mematuhi perin­tah. Mereka pun tidak pernah mementingkan dirinya sendiri. Sifat­sifat yang demikian inilah yang menjelma dalam sikap hidupnya.
Akar atau 'umber alam pikiran rakyat Tiongkok adalah Taoisme dan Confucianisme. Taoisme adalah pandangan hidup yang menitik­beratkan pada hal-hal yang sifatnya naturalistik yang berada dalam diri manusia. Sementara itu, Confucianisme adalah suatu pandangan hidup yang menitikberatkan pada organisasi sosial dan menekankan kepada tanggung jawab manusia terhadap masyarakat. Sebagai contoh:
a.    fajar telah menyingsing;
b.   jangan sekali-kali berlebih-lebihan;
c.    bilamana matahari telah mencapai puncaknya;
d.   maka turunlah ia;
e.    dan bilamana bulan sudah purnama;
f.     maka mengecillah ia.
Dalam bidang kesenian, rakyat Tiongkok menganggap bahwa kesenian merupakan alas untuk pendidikan .moral. Terbukti adanya lukisan-lukisan Tiongkok yang tergolong kelas utama, selalu meng­gambarkan pemandangan-pemandangan dan bunga-bungaan, pohon­pohonan, atau orang yang sedang duduk di pinggir sungai atau gunung.
Keadaan rakyat Tiongkok yang agraris ini berpengaruh pads metode filsafatnya. Terdapat dua macam konsep, yaitu metode yang dicapai lewat intuisi dan lewat hipotesis. Bahasa yang digunakan da­lam pemikiran filsafat adalah sugestif, artinya isi pernikirannya tidak tegas, hanya mengandung saran-saran.
2.      Sentuhan dengan Filsafat Barat
Orang Barat menamakan Tiongkok sebagai negeri Timur Jauh. Sebaliknya orang Tiongkok menganggap kebudayaan lain adalah salah atau tidak setinggi dengan kebudayaan yang dimilikinya. Semua orang asing disebutnya orang Barbar sehingga menimbulkan rasa nasionalismenya sangat tinggi.
Pada akhir Dinasti Ming (abad ke-14), banyak pelajar Tiongkok yang mengagumi matematika dan astronomi, yang dibawa dari Barat oleh kaum misionaris Kristen sehingga banyak pelajar yang masuk menjadi misionaris.
Pada abad ke-19, karena keunggulan militer, industri, dan perdagangan barat, kebetulan bersamaan dengan krisis politik dalam negeri, timbullah sengketa antara Tiongkok dengan orang misionaris. Akibatnya, muncul gerakan untuk kembali kepada ajaran Confusius. Pelopornya adalah Kang Yu Mei (1858 - 1927). Setelah terjadi per­golakan, ia melarikan diri ke luar negeri.
Pada abad ke-20 perkembangan kaum Kristen semakin pesat karena didorong oleh masuknya ilmu pengetahuan modem. Mempengaruhi jatuhnya Dinasti Ming, clan diganti dengan sistem peme­rintah republik (tahun 1912).

a.      Yen Fu (1853 -1920)
Yen Fu (1853 - 1920) oleh penguasa Tiongkok dikirim untuk belajar ilmu perkapalan ke Inggris. Banyak ilmu yang didapatkannya, termasuk literatur-literatur tentang humaniora, kemudian banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa Tiongkok (Cina).
Pada tahun 1919 John Dewey dan Bertrand Russell diundang ke Tiongkok untuk memberikan ceramahnya di Universitas Peking (Beijing), sekaligus memberikan pandangan intelektualnya. Hal ini diharapkan dapat disumbangkan (sebagai sumbangan barat) ter­hadap pemikiran filsafat Tiongkok. Sumbangan tersebut berupa me­tode analisis yang berclasarkan logika (metode positiO. Metode positif tersebut akan dapat memberikan cars berpikir yang barn terhadap pemikiran filsafat.
Sampai sekarang, sentuhan Barat yang telah membekas adalah adanya studi filsafat Tiongkok.
3.         Aliran-aliran Pemikiran Filsafat di Tiongkok
Di Tiongkok terdapat dua aliran yang mendominasi pemikiran rakyatnya, yaitu Confusianisme clan Taoisme.
a.   Confusianisme
Confusianisme dipelopori oleh Kung Fu Tzu (551-479 SM), lahir di Shantung. Riwayat hidupnya dapat cliketahui lewat penuturan sebuah buku Lun-Yu (pembicaraan). Ia keturunan bangsawan miskin. Umur 22 tahun mendirikan sekolah. Umur 51 tahun menjadi guber­nur di Tsyung, kemudian diangkat menjadi menteri kehakiman. Umur 73 tahun mendirikan mazhab sampai ia meninggal dunia. Ia dianggap sebagai guru kesusilaan bangsa Cina.
Pemikirannya, suatu hal yang dipentingkan oleh Kung Fu Tze adalah ritual dan harus menguasai aspek keagamaan dan sosial. la mengatakan, bahwa hendaknya raja tetap raja, hamba tetap hamba, ayah tetap ayah, anak tetap anak. Apabila sikap setiap orang sesuai dengan, statusnya, maka akan labir kesadaran akan "hak dan kewa­jiban". Sistem kekerabatan harus didasarkan pada syian, yaitu suatu perasaan keterikatan terhadap orang-orang yang menurunkannya. Aspek inilah yang menjadikan budaya Tiongkok tetap terwariskan.
b.   Taoisme
Pendiri Taoisme adalah Lao Tze lahir tahun 604 SM. Riwayat hidupnya hanya sedikit saja diketahui, tetapi ajarannya berpengaruh besar dalam masyarakat Tiongkok. Dalam arti yang lugs, Tao berarti jalan yang dilalui kejadian-kejadian alam dengan daya. cita yang timbul dengan sendirinya ditambah selingan-selingan yang teratur. Misalnya, siang dan malam.
Semua orang yang mengikuti Tao harus melepaskan semua usa­ha. Tujuan tertinggi adalah meloloskan diri dari khayalan keinginan dengan renungan secara gaib.
Pemikirannya, orang hendaknya memberikan kasih sayangnya tidak hanya terbatas pada para anggota keluarganya saja, tetapi harus kepada seluruh anggota keluarga yang lain. Peperangan dan upacara ritual dengan pengeluaran biaya tinggi yang akan merugikan rakyat merupakan suatu yang bertentangan dengan dasar kecintaan manusia sehingga harus dicela. Kalau kita sayang kepada orang lain, orang lain juga akan sayang kepada kita, dan kita tidak perlu takut akan kejahatan orang lain.'


C.     Filsafat Islam
Islam dengan kebudayaannya telah berjalan selama 15 abad. Dalam perjalanan yang demikian panjang terdapat 5 abad perjalanan yang menakjubkan dalam kegiatan pemikiran filsafat, yaitu antara abad ke-7 hingga abad ke-12. Dalam kurun waktu lima abad itu para ahli pikir Islam merenungkan keduclukan manusia di dalam hubung­annya dengan sesama, dengan alam, clan dengan Tuhan, dengan meng­gunakan akal pikirnya. Mereka berpikir secara sistematis clan analitis serta kritis sehingga lahirlah para filsuf Islam yang mempunyai ke­mampuan tinggi karena kebijaksanaannya.
Dalam kegiatan pemikiran filsafat tersebut, terdapat dua macam (kekuatan) pemikiran berikut.
1.             Para ahli pikir Islam berusaha menyusun sebuah sistem yang disesuaikan dengan ajaran Islam.
2.             Para ulama menggunakan metode rasional dalam menyelesaikan soal-soal ketauhidan.
Para ahli pikir Islam dan para ulama tersebut menggunakan instrumen atau alas filsafat untuk membela clan membentengi tau­hidnya. Para ahli pikir mencoba memberikan suatu kesimpulan yang tidak bertentangan dengan dasar ketauhidan.
Dari sekian banyak ulama Islam ada, yang berkeberatan terhadap pemikiran filsafat Islam (pemikiran filsafat yang berclasarkan ajaran Islam), tetapi ada juga yang menyetujuinya.
Ulama yang berkeberatan terhadap pemikiran filsafat (golongan salaf) berpendapat bahwa "adanya pemikiran filsafat dianggapnya sebagai bid'ah dan menyesatkan. Alquran tidak untuk diperdebatkan, dipikirkan, clan ditakwilkan menurut akal pikir manusia, tetapi Al­quran untuk diamalkan sehingga dapat dijadikan tuntunan hidup di dunia dan di akhirat.
Ulama yang tidak berkeberatan terhadap pemikiran filsafat (yang mempunyai pendapat bahwa filsafat itu penting) berpendapat bahwa "pemikiran filsafat sangat membantu dalam menjelaskan isi dan kandungan Alquran dengan penjelasan yang dapat diterima oleh akal pikir manusia. Di dalam Alquran terdapat ayat-ayat yang mene­kankan pentingnya manusia untuk berpikir tentang dirinya sendiri, tentang alam semesta untuk mengimani Tuhan Sang Pencipta.
1.      Beberapa Perbedaan yang Mendorong Aliran Pemikiran Filsafat Timbul
Timbulnya aliran pemikiran filsafat didorong oleh beberapa per­bedaan:
a.         persoalan tentang Zat Tuhan yang tidak dapat diraba, dirasa, dan dipikirkan;
b.         perbedaan cars berpikir,
c.         perbedaan orientasi dan tujuan hidup;
d.         perasaan "asabiyah", keyakinan yang buts atas dasar suatu pen­dirian walaupun diyakini tidak benar lagi.

2.      Lahimya Filsafat Islam
Setelah Kaisar Yustianus menutup akademi Neoplatonisme di Athena, beberapa guru besar hijrah ke Kresipon tahun 527, yang kemudian disambut oleh Kaisar Khusraw tahun 529. Setelah itu di tempat yang baru mengadakan kegiatan mengajar filsafat, mereka dalam waktu 20 tahun di camping mengajarkan filsafat, jugs mem­pengaruhi lahirnya lembaga-lembaga yang mengajarkan filsafat seperti di Alexandria, Anthipia, Beirut.
Sifat khas orang-orang Arab saat itu yang hidup mengembara (kafilah) bergeser pada proses urbanisasi, kemudian diikuti pudarnya dasar kehidupan asli yang terpendam dalam jiwa Arab. Dahulu orang Arab mengutamakan kejantanan dalam menghadapi hidup yang serba keras, karena terpengaruh keadaan geografis (luasnya padang pasir). Setelah proses urbanisasi, mereka terikat oleh birokrasi clan mengalami krisis identitas dalam bidang sosial dan agama (dari pola mengembara ke pola ketertiban).
Setelah mendapatkan kemapanan, mereka mengalami proses akulturasi penguasaan ilmu. Maka mulailah mengadakan kontak inte­lektual yang pads saat itu tersedia warisan pemikiran Yunani.
Proses akulturasi tersebut terjadi lewat dua jalur, yaitu Via Diffusa (kontak pergaulan sehari-hari) dan Via Bruditorum (kehendak mencari karya-karya Yunani).   Proses akulturasi ini mencapai puncaknya dengan didirikannya lembaga-lembaga pengajaran, penterjemahan, clan perpustakaan. Misalnya, tahun 833 Khalifah Al-Ma'mun (Bagdad) mendirikan Bait Al-Hikmah, tahun 972 Khalifah Hakam (Qahirah) mendirikan jami'at al-Azhar. Pusat-pusat ilmu pengetahuan tersebut didirikan di Kfifah, Fustdt, Basrah, Samarrah, dan Nishapur. Kenyataan inilah yang mem­buktikan bahwa filsafat Yunani berperan sebagai alas integrasi sosial barn.
3.         Pembagian Aliran Pemikiran Filsafat Islam
Pembagian ini berdlasarkan pada hubungan dengan sistem pemi­kiran Yunani, sebagai berikut.
a.          Periode Mu'tazilah. Periode ini berlangsung mulai abad ke-8 sam­pai abad ke-12, yang merupakan sebuah teologi rasional yang berkembang di Bagdad dan Basrah. Golongan ini memisahkan diri dari jumhur `ulama' yang dikatakan menyeleweng dari ajaran Islam.
b.         Periode Filsafat pertama. Periode ini berlangsung mulai dari abad ke-8 sampai dengan abad ke-11, memakai sistem pemikiran yang dipakai para ahli pikir Islam yang bersandar pads pemikiran Hellenisme, seperti Al-Kindi, Al-Rani, Al-Fdribl, dan Ibnu SMA.
c.          Periode Kalam Asyarf. Periode ini berlangsung mulai abad ke-9 sampai abad ke-11, pusatnya di Bagdad. Aliran pemikiran ini mengacu pads sistem Elia (Atomistis). Sistem ini mempunyai dominasi besar, sejajar dengan Sunnisme dan Ahli Sunnah wal-jamaah.
d.         Periode Filsafat kedua. Periode ini berlangsung mulai abad ke-11 sampai abad ke-12, yang berkembang di Spanyol dan Magrib. Aliran ini mengacu pads sistem peripatetic. Tokohnya Ibnu Bajah, Ibnu Tufail, dan Ibnu Rusyd.1
Dalam periode Mutakallimfn (700-900), muncul mazhab-mazhab al-Khawaril, Murji'ah, Qadariyyah, Jabariyyah, Mu'tazilah, Ahli Sunnah wal-jamd'ah.
a.      Al-Khawarij
Pada mulanya kaum al-Khawirij ini timbul karena soal politik, kemudian berubah menjadi soal dogmatik-teologis. Mereka menuduh Khalifah Ali bin Ab! Talib lebih percaya,pada putusan manusia dan mengenyampingkan putusan Allah. Karena itu Khalifah Ali diang­gap bukan Muslim lagi, maka kafirlah ia. Pendapat tersebut kemu­dian menjadi pendapat umum kaum khawdrij, yaitu "setiap umat Muhammad yang berdosa besar hingga matinya belum bertobat, maka orang tersebut hukumnya coati kafir dan kekal dalam neraka.
Sejak masa al-Khawarij itu mulailah pemikiran kritis di kalangan umat Islam tentang apakah Islam itu. Untuk menjadi seorang Muslim apakah harus berdasar keyakinan saja dan apakah keyakinan sese­orang dapat dianggap hilang hanya dengan melihat lahirnya.
b.      Murji'ah
Munculnya mazhab Murji'ah ini juga sama seperti al-Khawdrij, yaitu tatkala ibukota kerajaan Islam pindah ke Damsyik (Damaskus) sebagai pangkal sebab-sebab politik. Banyak tuduhan terhadap Kha­lifah Bani Umayyah dianggap oleh umat Islam mengesampingkan ajaran Islam karena perilaku pars Khalifah tersebut lain sekali dengan perilaku Khulafa ar-Rasyidin yang empat. Mereka dianggap tidak berhak untuk menjadi khalifah karena sangat kejamnya. Karena ke­kuasaannya sangat besar, umat Islam tidak dapat berbuat apa-apa. Muncul persoalan "bolehkah umat Islam diam saja dan wajib tact kepada Khalifah yang bertindak kejam dan berdosa?" Kemudian, kaum Murji'ah menjawab bahwa seorang Muslim boleh saja bersalat di be­lakang imam yang baik ataupun imam yang tidak baik (jahat).
c.    Qadariyyah
Mazhab ini dipelopori oleh Ma'bad Al-juhani Al-Basri, di Irak dalam pemerintahan Khalifah Abdul Malk bin Marwan (685 — 705).
Munculnya mazhab ini dianggap juga sebagai sarana untuk me­nentang politik Bani Umayyah yang kejam. Mazhab ini dengan cepat mendapatkan penganut yang banyak, sehingga Khalifah mengambil tindakan yang keras, dengan alasan apabila tidak ditindak maka akan sangat berbahaya bagi kepercayaan umat Islam waktu itu. Banyak yang dihukum mati, dan akhirnya mazhab tersebut tidak terlihat lagi.
d.         Jabariyyah
Mazhab ini muncul bersamaan dengan munculnya mazhab Qa­dariyyah. Jabariyyah ini munculnya di Khuraswh, Persia. Pelopornya, Al-jahm bin Safwan.
Pendapatnya yang terkenal adalah "hanya Allah-lah yang menen­tukan dan memutuskan segala aural perbuatan manusia".
e.         Mu'tazilah
Mazhab ini muncul pada masa Bani Umayah (Khalifah Hisyam). Mu'tazilah berarti pemisahan diri, dari Hasan Al-Basri oleh %sil bin Ata yang dianggap sebagai pendirinya. Pemisahan diri dari gurunya itu bermula dari perbedaan pendapat. Wasil bin Ata berpendapat bahwa seorang Muslim yang berdosa besar tidak mukminAan tidak kafir, tetapi di antara keduanya. Karena berbeda pendapat dengan gurunya itu, is kemudian mengasingkan diri dan melanjutkan teori­teorinya secara filsafati. Menurutnya, agama itu berakar pada dua pokok, yaitu Alquran dan akal manusia. Bagi mereka, akal merupakan cumber pengetahuan.
Keberadaan Mu'tazilah penting artinya karena apabila Mu'ta­zilah tidak lahir, tidak akan lahir pula Ilmu Kalam dan Filsafat Islam. Orientasi ajaran Mu'tazilah adalah dalam menetapkan hukum pema­kaian akal pikir didahulukan. Kemudian baru diselaraskan dengan
Alquran dan Alhadis. Menurut mereka, Alquran dan al-Hadis tidak mungkin bertentangan dengan akal pikir.
Terdapat sebuah penilaian bahwa Mu'tazilah merupakan suatu kegiatan besar untuk memasukkan Islam ke dalam orbit internasional. Sampai kini mazhab Mu'tazilah memungkinkan dapat memberikan inspirasi dan keberanian berpikir. Dr. Ahmad Amin mengatakan hal berikut ini.
Menurut hemat kami penghancuran Mu'tazilah merupa­kan malapetaka terbesar yang pernah dialami ummat Islam, itulah suatu maksiat yang dilakukan oleh Islam melawan Islam sendiri."
Dalam periode filsafat Islam, apabila dilihat dari sejarah per­adaban manusia, periode filsafat Islam ini dianggap sebagai lanjutan dari periode filsafat Yunani Klasik (Plato, Aristoteles), dan Plotinus karena pendapat-pendapat Para filosof Islam, seperti Al-Farabi, Ibnu Sma, Ibnu Rusyd.
Berikut ini pembagian aliran pemikiran filsafat Islam yang ber­dasar pada hubungannya dengan sistem pemikiran Yunani (ada empat), yaitu periode Mu'tazilah, periode Filsafat Pertama, periode Kalam Asy'ari, periode Kedua.
1)      Periode Mu'tazilah
Telah diterangkan di muka, bahwa Mu'tazilah merupakan mazhab atau aliran di Bagdad dan Basrah. Keberadaan Mu'tazilah ini sangat penting artinya dalam pemikiran filsafat Islam. Karena terlihat orientasi pemikirannya dalam menetapkan hukum, pemakaian akal pikir di­dahulukan, kemudian baru diselaraskan dengan Alquran dan Alhadis. Menurut mereka, Alquran dan Alhadis tidak mungkin bertentangan dengan akal pikir.
2)   Periode Filsafat Pertama
Terdapat dua bagian dalam periode filsafat pertama, yaitu per­tama, bercorak Neoplatonic yang berkembang di Irak, Iran, dan Turkestan; kedua bercorak peripatetic yang berkembang di Spanyol dan Magrib (Maroko).
Sebagai upaya pendahuluannya adalah diadakan pengumpulan naskah-naskah filsafat Yunani, kemudian diterjemahkan. Hampir seluruh karya Plato dan Aristoteles dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Arab (abad ke-9). Orang yang banyak menerjernahkan adalah Al-Kind! dan Ibnu Sina.
Al-Kindi (800-870), dialah satu-satunya orang Arab asli yang menjadi filsuf (ahli pikir). Ia berhasil menerjema6kan kurang lebih 260 buah buku Yunani, juga berhasil mengarang lebih dari 200 buah buku atau risalah. Orientasi pemikirannya adalah Mu'tazilah. Ketika aliran Mu'tazilah dilarang, sebagian bukunya hilang. Corak pemikirannya mengacu pada sistem Yunani yang bebas, diselingi dengan pemikirannya sendiri dan mengecam pemikiran yang tidak sesuai dengan ketauhidan.
Menurutnya, kegiatan manusia yang paling tinggi adalah filsafat yang merupakan pengetahuan yang benar, tentang hakikat segala yang ada sejauh mungkin bagi manusia.
Ibnu Sina (980-1037), dalam umur 18 tahun ia telah menjadi ahli dalam bidang filsafat, astronomi, fikih, matematika, biologi, ilmu bahasa dan lain-lainnya. Karya ilmiahnya berjumlah 267 buah buku dari berbagai bidang ilmu pengetahuan. Ia dianggap sebagai filosof yang hebat dalam sejarah Islam karena ia telah berhasil membuat sintesis filsafat yang lebih lugs. Tahun 1150 banyak karyanya yang dibakar di Bagdad. Ia mendapatkan kritik yang tajam dari Al-Gazali. Thomas Aquinas (filsuf Kristen) memujinya sebagai ahli pikir besar, dan Thomas sendiri banyak mengutip dari karyanya.
3)         Periode Kalam Asy'ari
Timbulnya aliran ini dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, yaitu:
a)         perlunya mempertahankan kemurnian tauhid, dari keragaman sistem pemikiran dalam Islam;
b)         untuk menangkis hal-hal yang'melemahkan tauhid dari serangan luar:
c)         terdapat gerakan yang membahayakan ketauhidan, misalnya Al-Hallaj (858-922).
Alas pertimbangan di alas, maka perlu adanya upaya memper­kokoh akidah Islam. Seperti Al-Asy'ari (873-935), ia membuat sintesis teologis sebagai alternatifnya. Ia memilih atomisme Democritos. Sebetulnya atomisme (materialisme) Democritos ini banyak yang tidak setuju, tetapi terdapat keistimewaan, yaitu kesimpulannya ber­corak kausalitas-kontradiktif, yang kemudian oleh Al- Asy'ari diper­kokoh dengan ayat-ayat Alquran.
4)         Periode Filsafat Kedua
Periode filsafat kedua ini pusatnya di Spanyol yang mempunyai sejarah menarik.
Dalam sejarah Islam, Spanyol disebut Andalusia. Berkat jasa seorang pahlawan Islam Tariq bin Ziyad yang meluaskan Islam sam­pai ke Spanyol, tahun 710. Cordoba dan Toledo ditaklukkan. Kemu­dian Dinasti Abdul Rahman berkuasa hingga tiga abad. Puncak keemasannya pada pemerintahan Abdul Rahman III (912-916), Al-Hakam II (961-976), Al-Najib Al-Mansur (977-1002), berhasil menjadikan Cordoba, Konstantinopel, dan Bagdad sebagai kota-kota penting yang berpengaruh sampai ke Eropa.
Kota-kola penting tersebut menjadi pusat ilmu pengetahuan. Kegiatan ilmu pengetahuan (terutama filsafat) merupakan prestasi besar dan sebagai mata rantai hubungan Islam dari Timur ke Eropa. Inilah sumbangan Islam terhadap Eropa yang dapat membawa ke­bebasan berpikir untuk mendorong perkembangan intelektual.9
Selanjutnya, pada tahun 1031 Khalifah Umayah jatuh karena pe­rang Salib, bersamaan juga berturut-turut Toledo, Cordoba, Soweto. Kaum Muslimin dikejar-kejar dan dibunuh, terdapat 3 juta. kaum Muslimin terbunuh dan buku-buku ilmu pengetahuan dibakar di Granada.
Dalam kurun waktu dua abad, telah lahir beberapa ahli pikir Islam, yaitu Ibnu Masarrah (883- 931), Ibnu Tufail (1110-1185), Ibnu Bajah (1100-1138), dan Ibnu Rusyd (1126-1198).
Suatu karya penting dari Ibnu Tufail adalah Hayy bin Yaqzan", buku ini telah berabad-abad menarik perhatian peminat filsafat.
Setelah Ibnu Rusyd meninggal dunia, sejarah dalam filsafat Islam terputus, filsafat tidak diperhatikan lagi hingga tahun 1870. Baru kemudian oleh Jamaluddin Al-Afgani (1839-1897)11, menyeru­kan kepada umat Islam untuk berfilsafat lagi. Disusul oleh Muhammad Abduh (1849-1905)12, kemudian Muhammad lqbal (1873-1938)." Tampaknya, sampai sekarang filsafat belum lagi menyingsing sebagai ilmu yang otonom dalam lingkup Islam.

D. Filsafat Indonesia
Pandangan hidup dan sistem pemikiran bangsa Indonesia tidak soma dengan pandangan hidup dan sistem pemikiran bangsa di negara lainnya. Seperti bangsa-bangsa di negara-negara Barat, di mana pan­dangan hidup dan sistem pemikirannya bersumber pada pemikiran filsafat Yunani, walaupun pemikiran filsafat Yunani ini telah dapat dibuktikan dengan keberhasilannya membangun peradaban manusia, tetapi pada akhirnya akan mengalami kepincangan hidup. Kepincang­an tersebut dapat kita lihat bahwa manusia produk dari pemikiran Yunani hanya melahirkan manusia-manusia yang individualistis, yang di dalam dirinya terdapat sifat saling curiga, saling bermusuhan. Juga, dari pandangan bahwa di dalam pribadinya terdapat hal-hal yang selalu dipertentangkan dengan rasio (akal).
Mengapa demikian. Karena dari sifat individualistis dan mate­rialistic yang akarnya dari pemikiran Yunani tidak terdapat warna Yang Transendental atau Yang Immanent, tetapi pemikiran Yunani hanya diwarnai oleh warna mitologi dan rasio.
Dengan demikian, pandangan hidup atau pemikiran yang diper­untukkan membangun peradaban manusia, akan melahirkan manu­sia-manusia yang egoistic, yaitu manusia yang mementingkan dirinya sendiri dan menganggap orang lain sebagai objek kepentingan diri sendiri.
Demikian jugs halnya dengan pandangan hidup yang mengacu pada materialisme, di mana di dalamnya mengandung bibit kesera­kahan, kemurkaan, dan menganggap orang lain sebagai objek keuntung­an material, yang pada akhirnya akan melahirkan manusia-manusia yang tidak bermoral atau jauh dari nilai-nilai moral.
Jadi, sesuatu pandangan hidup atau pemikiran (paham kehidupan) yang berasaskan individualisms akan melahirkan manusia-manusia yang berpola "dangkal" dalam lingkup pergaulan sosial. Sementara itu, pandangan hidup yang berasaskan materialisme akan melahirkan manusia-manusia yang berpola pada penyimpangan nilai-nilai moral dalam lingkup sosial.

1.            Pemikiran Filsafat Indonesia
Maksud pemikiran filsafat Indonesia adalah suatu pemikiran fil­safat yang diperuntukkan dalam atau sebagai landasan hidup bangsa Indonesia.
Setiap manusia tentu menginginkan hidupnya dalam keadaan baik, sejahtera, dan bahagia. Banyak orang yang tidak mengetahui bahwa untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan suatu sistem pemi­kiran yang sesuai dengan hakikat manusia dan hakikat kehidupannya. Manusia akan kehilangan sebagian kehidupannya apabila hidupnya tidak atau tanpa suatu sistem pemikiran yang digunakan dalam tujuan kehidupan sehingga hidupnya akan mengalami kepincangan, selan­jutnya akan mengalami kekecewaan hidup.
Untuk itu, perlu sekali adanya suatu sistem pandangan hidup yang di dalamnya terdapat keselarasan atau keharmonisan antara hakikat pribadi manusia Indonesia dengan hal-hal yang dibutuhkan untuk mencapai kesejahteraan, kebahagiaan, dan ketenteraman.
Maksud hakikat pribadi dalam kedudukannya sebagai manusia Indonesia adalah sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan makhluk Tuhan. Untuk mencapai kesejahteraan, kebahagiaan, dan ketenteraman seseorang harus mengupayakan dengan tiga cara kese­larasan atau keharmonisan, yaitu:
a.       selaras atau harmonis dengan dirinya sendiri;
b.      selaras atau harmonis dengan (terhadap) pergaulan sesama manusia, dan di lingkungan kehidupannya;
c.       selaras atau harmonis dengan (terhadap) Tuhan Yang Maha Kuasa.
Ketiga keselarasan atau keharmonisan tersebut merupakan har­moni yang mutlak adanya, di mana di dalamnya tidak terdapat lagi pertentangan satu sama lainnya (harmoni sempurna).
Dengan demikian, sister pemikiran seperti di atas diharapkan akan membawa pada suatu bentuk manusia Indonesia yang diwarnai clan sekaligus mengarah "pergaulan hidup" (bukannya "perjuangan hidup"). Sister pemikiran tersebut juga diharapkan dapat dijadikan sebagai motor penggerak setiap tindakan dan perbuatan manusia Indonesia.
Suatu pemikiran filsafat yang implementasinya sebagai suatu pandangan hidup bagi setiap orang Indonesia mempunyai peranan yang penting, yaitu apabila seseorang tidak mempunyai pandangan hidup niscaya hidupnya tidak mengarah.
Bagi bangsa dan rakyat Indonesia tidaklah demikian, karena manusia-manusia Indonesia mempunyai kedudukan sebagai makh­luk Tuhan. Karena hidup ini tidak hanya diperuntukkan di dunia, akan tetapi juga untuk akhirat (kehidupan setelah kehidupan dunia). Dimensi keakhiratan inilah yang mengharuskan manusia Indonesia untuk mendasarkan pada suatu sister pandangan hidup yang selaras atau harmoni, tidak bertentangan, dan sejalan dengan hakikat manusia sebagai makhluk Tuhan
Jadi, pandangan hidup model Indonesia mempunyai dimensi yang berakar keselarasan atau keharmonisan dengan hakikat kedudukan kodrat manusia, yang implementasinya berupa asas kekeluargaan clan asas kehidupan yang diridai Tuhan.

2.      Materi Filsafat (Pandangan Hidup) Indonesia
Suatu pandangan hidup yang sesuai dengan manusia Indonesia adalah suatu pandangan hidup yang berasal dari akar hikmat yang terkandung dalam khasanah budaya Indonesia, yang dapat dijumpai dalam berbagai adat istiadat, peribahasa, pepatah yang kesemuanya itu merupakan ungkapan-ungkapan perilaku kehidupan manusia Indonesia.
Melihat uraian di atas, budaya yang terungkap tersebut merupa­kan esensi filsafat bangsa Indonesia. Karena budaya tersebut sebagai hasil perkembangan rohaniah dan intelektual bangsa.
Setelah rakyat Indonesia terbebas dari penjajahan tahun 1945, rakyat Indonesia mulai timbul kesadarannya bahwa suatu negara apabila tidak mempunyai kebudayaan dikatakan sebagai bangsa yang miskin. Pengertian budaya di sini dalam artian yang luas, yaitu budaya yang memperlihatkan kepribadian bangsa Indonesia.
Negara Republik Indonesia terdiri dari 17 ribu pulau lebih, be­ragam adat istiadat, dan beratus suku dan bahasa. Dari sekian banyak suku yang tersebar, yang paling besar adalah suku jawa, sedangkan yang kedua adalah suku Minangkabau. Dari keragaman tersebut menyebabkan pandangan hidupnya juga beragam. Keragaman terse-but menunjukkan adanya kekayaan budaya yang semuanya itu lebih ditentukan oleh aspek-aspek geografis, lingkungan, dan lainnya. De­ngan keragaman suku, adat istiadat, bahasa, kepercayaan, dan budaya, semuanya mempunyai suatu kesamaan hakikat. Dari kesamaan ha­kikat inilah nantinya akan muncul suatu rumusan pandangan hidup bangsa Indonesia yaitu Filsafat Pancasila.
Untuk membentuk kesatuan budaya yang meliputi seluruh wilayah kesatuan Indonesia dibutuhkan waktu yang lama, penuh tan­tangan,'dan berliku-liku.
Menurut sejarahnya, 2000 tahun yang lalu telah ada sekelompok orang yang kelak akan melahirkan bangsa Indonesia. Keberadaannya baru terwujud sebagai embrio. Kemudian, tercetusnya Sumpah Pemuda tahun 1928 dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945 merupakan wujud embrio kesatuan bangsa Indonesia, di mana pada saat itu belum mencapai taraf yang memuaskan
Pada tahun 1945, lahirnya negara kesatuan Republik Indonesia, diikuti "kepribadian bangsa Indonesia". Bangsa Indonesia yang saat itu jumlahnya barn puluhan juta telah mempunyai kedudukan sebagai negara kesatuan seperti negara lainnya. Di mata negara lain, bangsa dan negara Indonesia dengan segala corak kebangsaannya sudah terlihat, tetapi apabila dilihat dari dalam masih banyak kekurangannya.
Setelah terbebas dari penjajahan, setapak demi setapak bangsa Indonesia mengupayakan untuk mengembangkan kepribadian, yaitu dengan jalan dirintis oleh beberapa tokoh: Moh. Yamin, Ir. Soekarno, dan lain-lainnya. Upaya tersebut didasarkan pada, "semakin tinggi tingkat kepribadian suatu bangsa, semakin tinggi tingkat filsafat bangsanya", karena pandangan hidup bangsalah yang menentukan corak kepribadiannya, sekaligus menentukan corak moralnya.
Upaya yang lainnya adalah memantapkan kebudayaan nasional yang terbentuk dari kebudayaan-kebudayaan daerah atau lokal, se­hingga kepribadian dan kebudayaan nasional terbentuk lewat kepri­badian atau kebudayaan daerah atau lokal. Maka kepribadian dan kebudayaan secara bersama-sama membentuk suatu titik kulminasi, yaitu terbentuknya pandangan hidup dalam wadah negara kesatuan Republik Indonesia.
Bersyukurlah bahwa para pemimpin bangsa Indonesia dengan segala kemampuan dan kebijaksanaannya telah berbuat untuk menggali khasanah kepribadian dan kebudayaan untuk mencari titik kulminasi. Maka, lahirlah Pancasila yang di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur yang mencerminkan kepribadian dan kebudayaan bangsa Indonesia. Hanya Pancasilalah yang pantas dijadikan pandangan hidup sekaligus landasan pemikiran bangsa dan negara Indonesia.
Bentuk Filsafat Indonesia
Bentuk filsafat Indonesia terdiri dari lima sila berikut.
v   Sila I Ketuhanan Yang Maha Esa.
v   Sila II Kemanusiaan yang adil dan berada
v   Sila III  Persatuan Indonesia.
v   Sila IV Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
v   Sila V  Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.

Lima sila di atas juga disebut lima dasar sebagai suatu totalitas, merupakan suatu kebulatan tunggal, yang setiap sila-silanya selalu harus mengandung keempat sila yang lainnya. Setiap, sila tidak boleh dipertentangkan terhadap, sila yang lain karena di antara sila-sila itu memang tidak terdapat hal-hal yang bertentangan.
Dengan demikian, Pancasila mempunyai sifat yang abstrak, umum, universal, tetap tidak berubah, menyatu dalam suatu inti ha­kikat mutlak: Tuhan, manusia, salu, rakyat, dan adil, yang kedudukan­nya sebagai inti pedoman dasar yang tetap. Kejadian tersebut, melalui suatu proses yang panjang, dimatangkan oleh sejarah perjuangan bangsa, akan tetap, berakar pada kepribadian kita berarti Pancasila merupakan pandangan hidup seluruh bangsa Indonesia, yang telah disetujui oleh para wakil rakyat menjelang dan sesudah Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia. jadi, Pancasila adalah satu-satunya pandangan hidup (filsafat) yang dapat mempersatukan rakyat dan bangsa Indonesia





BAB IV
FILSAFAT MODERN

Tidak dapat dipungkiri, zaman filsafat modern telah dimulai. Secara historic, zaman modern dimulai sejak adanya krisis zaman pertengahan selama dua abad (abad ke-14 dan ke-15), yang ditandai dengan munculnya gerakan Renaissance.' Renaissance berarti kela­hiran kembali, yang mengacu kepada gerakan keagamaan dan kema­syarakatan yang bermula di Italia (pertengahan abad ke-14). Tujuan utamanya adalah merealisasikan kesempurnaan pandangan hidup Kristiani dengan mengaitkan filsafat Yunani dengan ajaran agama Kristen. Selain itu, juga dimaksudkan untuk mempersatukan kembali gereja yang terpecah-pecah.
Di samping itu, para humanis bermaksud meningkatkan suatu perkembangan yang harmonic dari keahlian-keahlian dan sifat-sifat alamiah manusia dengan mengupayakan kepustakaan yang baik dan mengikuti kultur-klasik.
Renaissance akan banyak memberikan segala aspek realitas.  Perhatian sungguh-sungguh atas segala hal yang konkret dalam lingkup alam semesta, manusia, kehidupan masyarakat, dan sejarah. Pada masaitu  pula terdapat upaya manusia untuk memberi tempat kepada akal yang mandiri. Akal diberi kepercayaan yang lebih besar karena adanya suatu keyakinan bahwa akal pasti dapat menerangkan segala macam persoalan yang diperlukan juga pemecahannya. Hal ini dibuktikan adanya perang terbuka terhadap kepercayaan yang dog­matis dan terhadap orang-orang yang enggan menggunakan akalnya.
Asumsi yang digunakan, semakin besar kekuasaan akal akan dapat diharapkan lahir "dunia barn" yang penghuninya (manusia­manusianya) dapat merasa puss atas dasar kepemimpinan akal yang sehat.
Aliran yang menjadi pendahuluan ajaran filsafat modem ini di­dasarkan pada suatu kesadaran atas yang individual dan yang konkret 1
Bermula dari William Ockham (1295-1349), yang mengetengah­kan Via Moderns (jalan modern) dan Via Antiques (jalan keno). Aki­batnya, manusia didewa-dewakan, manusia tidak lagi memusatkan pikirannya kepada Tuhan dan surges. Akibatnya, terjadi perkembangan ilmu pengetahuan secara pesat dan membuahkan sesuatu yang mengagumkan.3 Di sisi lain, nilai filsafat merosot karena Oianggap ketinggalan zaman.
Dalam era filsafat modern, yang kemudian dilanjutkan dengan era filsafat abad ke-20, muncullah berbagai aliran pemikiran: Rasio‑nalisme, Empirisme, Kritisisme, Idealisms, Positivisme, Evolusionis­me, Materialisme, Neo-Kantianisme, Pragmatisme, Filsafat Hidup, Fenomenologi, Eksistensialisme, dan Neo-Thomisme.

A.        Rasionalisme
Setelah  pemikiran Renaissance sampai pada penyempurnaan­nya, yaitu telah tercapainya kedewasaan pemikiran, maka terdapat keseragaman mengenai sumber pengetahuan yang secara alamiah dapat dipakai manusia, yaitu akal (rasio) dan pengalaman (empiri), Karena orang mempunyai kecenderungan untuk membentuk aliran berdasarkan salah satu di antara keduanya, maka kedua-duanya sama-sama membentuk aliran tersendiri yang Baling bertentangan.\
Rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650) yang disebut sebagai bapak filsafat modern. Ia ahli dalam ilmu alam, ilmu hukum, dan ilmu kedokteran. Ia menyatakan, bahwa ilmu pengeta­huan harus satu, tanpa bandingannya, harus disusun oleh satu orang, sebagai bangunan yang berdiri sendiri menurut satu metode yang umum. Yang harus dipandang sebagai hal yang benar adalah apa yang jelas dan terpilah-pilah (clear and distinctively). Ilmu pengetahuan harus mengikuti langkah ilmu pasti karena ilmu pasti dapat dijadikan model cars mengenai secara dinamis.
Rene Descartes yang mendirikan aliran rasionalisme berpen­dapat bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah akal. Hanya pengetahuan yang diperoleh lewat akallah yang memenuhi syarat yang dituntut oleh semua ilmu pengetahuan ilmiah. Dengan akal dapat diperoleh kebenaran dengan metode deduktif, seperti yang dicontohkan dalam ilmu pasti.
Latar belakang munculnya rasionalisme adalah keinginan untuk membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional. (skolastik), yang pernah diterima, tetapi ternyata tidak'mampu menangani hash-hash ilmu pengetahuan yang dihadapi. Apa yang ditanam Aristoteles dalam pemikiran saat itu juga masih dipengaruhi oleh khayalan-khayalan.
Descartes menginginkan cara yang barn dalam berpikir, maka diperlukan titik tolak pemikiran pasti yang dapat ditemukan dalam keragu-raguan, Cogito ergo sum (saya berpikir maka saya ada). Jelasnya, bertolak dari keraguan untuk mendapatkan kepastian.1

B.   Empirisme
Sebagai tokohnya adalah Thomas Hobbes, John Locke, dan David Hume. Karena adanya kemajuan ilmu pengetahuan dapat dirasakan manfaatnya, pandangan orang terhadap filsafat mulai merosot. Hal ini terjadi karena filsafat dianggap tidak berguna lagi bagi kehidupan. Pada sisi lain, ilmu pengetahuan besar sekali manfaatnya bagi kehi­dupan. Kemudian beranggapan bahwa pengetahuan yang bermanfaat, pasti, dan benar hanya diperoleh lewat indra (empiri), dan empirilah satu-satunya sumber pengetahuan. Pemikiran tersebut lahir dengan nama empirisme.

1.      Thomas Hobbes (1588-1679)
Ia seorang ahli pikir Inggris lahir di Malmesbury. Pada usia 15 tahun ia pergi ke Oxford untuk belajar logika Skolastik dan fisika, yang ternyata gagal, karena ia tidak berminat sebab gurunya beraliran Aristotelian. Sumbangan yang besar sebagai ahli pikir adalah suatu sistem materialistic yang besar, termasuk juga perikehidupan organic dan rohaniah. Dalam bidang kenegaraan ia mengemukakan teori Kon­trak Social.
Dalam tulisannya, ia telah menyusun suatu sistem pemikiran yang berpangkal pada dasar-dasar empiris, di samping juga menerima metode dalam ilmu alam yang matematis.
Pendapatnya adalah bahwa ilmu filsafat adalah suatu ilmu pe­ngetahuan yang sifatnya umum. Menurutnya filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan tentang akibat-akibat atau tentang gejala-gejala yang diperoleh dari sebabnya. Sasaran filsafat adalah fakta, yaitu untuk mencari sebab-sebabnya. Segala yang ada ditentukan oleh sebab, sedangkan prosesnya sesuai dengan hukum ilmu pastiAlmu alam.
Namanya sangat terkenal karena teorinya tentang Kontrak Sosial, yaitu manusia mempunyai kecenderungan untuk mempertahankan diri. Apabila setiap orang mempunyai kecenderungan demikian, maka pertentangan, pertengkaran atau perang total tak dapat dihindari. Perang akan membuat kehidupan menjadi sengsara dan buruk. Bagai­mana manusia dapat menghindarinya. Maka diperlukan akal sehat, agar setiap orang mau melepaskan haknya untuk berbuat sekehen­daknya sendiri. Untuk itu, mereka harus bersatu membuat perjanjian untuk menaatiAunduk terhadap penguasa. Orang-orang yang diper­satukan disebut Commonwealth.
John Locke (1932-1704)
la dilahirkan di Wrington, dekat Bristol, Inggris. Di samping sebagai seorang ahli hukum, ia juga menyukai filsafat dan teologi, mendalami ilmu kedokteran dan penelitian kimia. Dalam mencapai kebenaran, sampai seberapa jauh (bagaimana) manusia memakai kemampuannya.
Dalam penelitiannya ia memakai istilah-sensation dan reflection. Sensation adalah suatu yang dapat berhubungan dengan dunia luar, tetapi manusia tidak dapat mengerti dan meraihnya. Sementara itu, reflection adalah pengenalan intuitif yang memberikan pengetahuan kepada manusia, yang sifatnya lebih baik daripada sensation. Tiap­tiap pengetahuan yang diperoleh manusia terdiri dari sensation dan reflection. Walaupun demikian, manusia harus mendahulukan sensation. Mengapa demikian? Karena jiwa manusia di saat dilahirkan putih bersih (tabula rasa) yaitu jiwa itu kosong bagaikan kertas putih yang belum tertulisi. Tidak ada sesuatu dalam jiwa yang dibawa sejak lahir, melainkan pengalamanlah yang membentuk jiwa seseorang.1

C.           Kritisisme
Aliran ini muncul abad ke-18. Suatu zaman baru di mana seorang ahli pikir yang cerdas mencoba menyelesaikan pertentangan antara rasionalisme dengan empirisme. Zaman baru ini disebut zaman Pencerahan (Aufklarung). Zaman pencerahan ini muncul di mana manusia lahir dalam keadaan belum dewasa (dalam pemikiran filsa­fatnya). Akan tetapi, setelah Kant mengadakan penyelidikan (kritik) terhadap perm pengetahuan akal. Setelah itu, manusia terasa bebas dari otoritas yang datangnya dari luar manusia, demi kemajuan/per­adaban manusia.
Sebagai latar belakangnya, manusia melihat adanya kemajuan ilmu pengetahuan (ilmu pasti, biologi, filsafat dan sejarah) telah mencapai hasil yang menggembirakan. Di sisi lain, jalannya filsafat tersendat-sendat. Untuk itu diperlukan upaya agar filsafat dapat berkembang sejajar dengan ilmu pengetahuan alam. Isaac Newton (1642-1727) memberikan dasar-dasar berpikir dengan induksi, yaitu pemikiran yang bertitik tolak pada gejala-gejala dan mengembalikan kepada dasar-dasar yang sifatnya umum. Untuk itu dibutuRkan analisis.
Gerakan ini dimulai di Inggris, kemudian ke Prancis, Jan selanjutnya menyebar ke seluruh Eropa, terutama ke Jerman. Di Jerman pertentangan antara rasionalisme dengan empirisme semakin ber­lanjut. Masing-masing berebut otonomi. Kemudian timbul masalah, siapa yang sebenarnya dikatakan sebagai sumber pengetahuan? Apakah pengetahuan yang benar itu lewat rasio atau empiri?
Seorang ahli pikir Jerman Immanuel Kant (1724-1804) mencoba menyelesaikan persoalan di atas. Pada awalnya, Kant mengikuti rasionalisme, tetapi kemudian terpengaruh oleh empirisme (Hume). Walaupun demikian, Kant tidak begitu mudah menerimanya karena ia mengetahui bahwa empirisme terkandung skep-tisisme. Untuk itu, ia tetiFffi&ngakui kebenaran ilmu, dan dengan akal manusia akan dapat mencapai kebenaran.
Akhirnya, -Kant mengakui peranan akal dan keharusan empiri, kemudian dicobanya mengadakan sintesis. Walaupun semua penge­tahuan bersumber pada akal (rasionalisme), tetapi adanya pengertian timbul dari benda (empirisme). Ibarat burung terbang harus mempu­nyai sayap (rasio) dan udara (empiri).
Jadi, metode berpikirnya disebut metode kritis. Walaupun ia mendasarkan diri pada nilai yang tinggi dari akal, tetapi ia tidak mengingkari adanya persoalan-persoalan yang melampaui akal. Se­hingga akal mengenal batas-batasnya. Karena itu aspek irrasionalitas dari kehidupan dapat diterima kenyataannya.1

D.    Idealisms
Setelah Kant mengetengahkan tentang kemampuan akal ma­nusia, maka para murid Kant tidak pugs terhadap batas kemampuan akal, alasannya karena akal murni tidak akan dapat mengenal hal ­yang berada di luar pengalaman. Untuk itu, dicarinya suatu dasar, yaitu suatu sistem metafisika yang ditemukan lewat dasar tindakan: aku sebagai sumber yang sekonkret-konkretnya. Titik tolak terse-but dipakai sebagai dasar untuk membuat suatu kesimpulan tentang keseluruhan yang ada.
Pelopor Idealisms: J.G. Fichte (1762-1814), F.W.J. Scheling (1775-1854), G.W.F. Hegel (1770-1831), Schopenhauer (1788-1860).
Apa yang dirintis oleh Kant mencapai puncak perkembangannya pada Hegel. Hegel lahir di Stuttgart, Jerman. Pengaruhnya begitu besar sampai luar Jerman. Menjadi profesor ilmu filsafat sampai meninggal. Setelah ia mempelajari pemikiran Kant, ia tidak merasa puas tentang ilmu pengetahuan yang dibatasi secara kritis. Menurut pendapatnya, segala peristiwa di dunia ini hanya dapat dimengerti jika suatu syarat dipenuhi, yaitu jika peristiwa-peristiwa itu sudah secara otomatis mengandung penjelasan-penjelasannya. Ids yang berpikir itu sebe­narnya adalah gerak yang menimbulkan gerak lain. Artinya, gerak yang menimbulkan tesis, kemudian menimbulkan anti tesis (gerak yang bertentangan), kemudian timbul sintesis yang merupakan tesis baru, yang nantinya menimbulkan antitesis dan seterusnya. Inilah yang disebutnya sebagai dialektika. Proses dialektika inilah yang menjelaskan segala peristiwa.

E.  Positivisme
Filsafat Positivisme lahir pada abad ke-19. Titik tolak pemi­kirannya, apa yang telah diketahui adalah yang faktual dan yang positif, sehingga metafisika ditolaknya. Maksud positif adalah segala gejala dan segala yang tampak seperti apa adanya, ~ebatas penga­laman-pengalaman objektif. Jadi, setelah fakta diperolehnya, fakta­fakta tersebut kita atur dapat memberikan semacam asumsi (proyeksi) ke masa depan.
Beberapa tokoh: August Comte (1798-1857), John S. Mill (1806­1873). Herbert Spencer (1820-1903).
1.      August Comte (1798-1857)
Ia lahir di Montpellier, Prancis. Sebuah karyanya adalah Cours de philosophia positive (Kursus tentang filsafat positio dan berjasa dalam mencipta ilmu sosiologi.
Menurut pendapatnya, perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam tiga tahap: tahap teologis, tahap metafisis, dan tahap ilmiah/positif.
Pada tahap, teologis manusia mengarahkan pandangannya ke­pada hakikat yang batiniah (sebab pertama). Di sini manusia percaya kepada kemungkinan adanya sesuatu yang mutlak. Artinya, di balik setiap kejadian tersirat adanya maksud tertentu.
Pada tahap metafisis manusia hanya sebagai tujuan pergeseran dari tahap teologis. Sifat yang khas adalah kekuatan yang tadinya ber­sifat adi kodrati, diganti dengan kekuatan-kekuatan yang mempunyai pengertian abstrak, yang diintegrasikan dengan alam.
Pada tahap ilmiah/positif, manusia telah mulai mengetahui dan sadar bahwa upaya pengenalan teologis dan metafisis tidak ada gunanya. Sekarang manusia berusaha mencari hukum-hukum yang berasal dari fakta-fakta pengamatan dengan memakai akal.
Tahap-tahap tersebut berlaku pada setiap individu (dalam per­kembangan rohani) jugs di bidang ilmu pengetahuan.
Pada akhir hidupnya, ia berupaya untuk membangun agama baru tanpa teologi atas dasar filsafat positifnya. Agama baru tanpa teologi ini mengagungkan akal dan mendambakan kemanusiaan dengan semboyan "Cinta sebagai prinsip, teratur sebagai basis, k­majuan sebagai tujuan.
Sebagai istilah ciptaannya yang terkenal altruism yaitu mengang­gap bahwa soal utama bagi manusia ialah usaha untuk hidup bagi kepentingan orang lain.'

F.  Evolusionisme
Aliran ini dipelopori oleh seorang Zoologi yang mempunyai pengaruh sampai saat ini yaitu, Charles Robert Darwin (1809-1882). la mendominasi pemikiran filsafat abad ke-19.
Pada tahun 1838 membaca bukunya Malthus An Essay on the Principle of Population. Buku tersebut memberikan inspirasi kepada Darwin untuk membentuk kerangka berpikir dari teorinya. Menurut Malthus, manusia akan cenderung meningkat jumlahnya (deret ukur), di atas batas bahan-bahan makanan (deret ukur). Dengan demikian, Darwin memberikan kesimpulan bahwa untuk mengatasi hal terse-but manusia harus bekerja sama, harus berjuang di antara sesamanya untuk mempertahankan hidupnya. Karena itu hanya hewan yang ulet yang mampu untuk menyesuaikan diri dengan iklim sekitarnya.8
Dalam pemikirannya, ia mengajukan konsepnya tentang per­kembangan tentang segala sesuatu termasuk manusia yang diatur oleh hukum-hukum mekanik, yaitu survival of the fittest dan struggle for life.
Pada hakikatnya antara binatang dan manusia dan benda apa pun tidak ada bedanya. Dimungkinkan terdapat perkembangan manusia pada masa Wng akan datang lebih sempurna. Dalam pe­mikirannya, Darwin tidak melahirkan sistem filsafat, tetapi pada ahli pikir berikutnya (Herbert Spencer) berfilsafat berdasarkan pada evolusionisme.

G.    Materialisme
Munculnya Positivisme dan Evolusionisme menambah terbuka­nya pintu pengingkaran terhadap aspek kerohanian. Julien de La­mettrie (1709-1751) mengemukakan pemikirannya bahwa binatang dan manusia tidak ada bedanya, karena semuanya dianggap sebagai mesin. Buktinya, bahan (badan) tanpa jiwa mungkin hidup (bergerak), sedangkan jiwa tanpa bahan (badan) tidak mungkin ada. Jantung katak yang dikeluarkan dari tubuh katak masih berdenyut (hidup) walau beberapa saat saja.9
Seorang tokoh lagi (Materialisme Alam) adalah Ludwig Feueur­bach (1804-1872) sebagai pengikut Hegel, mengemukakan penda­patnya, bahwa baik pengetahuan maupun tindakan berlaku adagium, artinya terimalah dunia yang ada, bila menolak agama/metafisika. Satu-satunya asas kesusilaan adalah keinginan untuk mendapatkan kebahagiaan. Dan untuk mencari kebahagiaan manusia harus ingat. akan sesamanya.
Dari Materialisme Historis/dialektis, yaitu Karl Marx (1818­1883), nama lengkapnya Karl Heinrich Marx, dilahirkan di Trier, Prusia, Jerman. Sewaktu menjadi mahasiswa ia terpengaruh oleh ajaran Hegel dan dapat mencapai gelar doktor dalarn bidang filsafat. Di kala ia berkawan dengan Bruno Bauer ia mendapatkan kekece­waan, tetapi setelah berkawan dengan Friedrich Engels di Paris, maka dengan kawannya itulah ia (tahun 1848) menyusun Manifesto Komunist. setelah itu, ia menjadi buronan politik dan diusir dan di­penjara di London, sampai meninggal dunia. la meninggalkan warisan sebuah karya terbesarnya, Das Kapital, yang terbit tahun 1867.
Menurut pendapatnya, tugas seorang filosof bukan untuk menerangkan dunia, tetapi untuk mengubahnya. Hidup manusia itu ternyata ditentukan oleh keadaan ekonomi. Dari segala hasil tindak­annya: ilmu, seni, agama, kesusilaan, hukum, politik — semuanya itu hanya endapan dari keadaan itu, sedangkan keadaan itu sendiri diten­tukan benar-benar dalam sejarah.11

H.    Neo-Kantianisme
Setelah Materialisme pengaruhnya merajalela, para murid Kant mengadakan gerakan lagi. Banyak filosof Jerman yang tidak pugs terhadap Materialisme, Positivisme, dan Idealisme. Mereka ingin kembali ke filsafat kritis, yang bebas dari spekulasi Idealisme dan bebas dari dogmatis Positivisme dan Materialisme. Gerakan ini di­sebut Neo-kantianisme. Tokohnya antara lain Wilhelm Windelband (1848-1915), Herman Cohen (1842-1918), Paul Natrop (1854-1924), Heinrich Reickhart (1863-1939).
Herman Cohen memberikan titik tolak pemikirannya menge­mukakan bahwa keyakinannys pada otoritas akal manusia untuk mencipta. Mengapa demikian, karena segala sesuatu itu baru dikata­kan 'ada' apabila terlebih dahulu dipikirkan. Artinya, 'ada' dan 'dipi­kirkan' adalah sama sehingga apa yang dipikirkan akan melahirkan isi pikiran. Tuhan, menurut pendapatnya, bukan sebagai person, tetapi sebagai cita-cita dari seluruh perilaku manusia.

I.       Pragmatisme
Pragmatisme berasal dari kata pragma yang artinya guns. Pragma berasal dari kata Yunani. Maka Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan akibat-akibat yang bermanfaat se‑cara praktis. Misalnya, berbagai pengalaman pribadi tentang kebenaran mistik, asalkan dapat membawa kepraktisan dan bermanfaat. Artinya, segala sesuatu dapat diterima asalkan bermanfaat bagi kehidupan.
Tokohnya William James (1842-1910) lahir di New York, mem­perkenalkan ide-idenya tentang pragmatisme kepada dunia. Ia ahli dalam bidang seni, psikologi, anatomi, fisiologi, dan filsafat.
Pemikiran filsafatnya lahir karena dalam sepanjang hidupnya mengalami konflik antara pandangan ilmu pengetahuan dengan pandangan agama. Ia beranggapan, bahwa masalah kebenaran tentang asal/tujuan dan hakikat bagi orang Amerika terlalu teoretis. Ia meng­inginkan hasil-hasil yang konkret. Dengan demikian, untuk mengetahui kebenaran dari ide atau konsep haruslah diselidiki konsekuensi­konsekuensi praktisnya.
Kaitannya dengan agama, apabila ide-ide agama dapat memper­kaya kehidupan, ide-ide tersebut benar.

J.            Filsafat Hidup
Aliran filsafat ini lahir akibat dari reaksi dengan adanya kema­juan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menyebabkan industriali­sasi semakin pesat. Hal ini mempengaruhi pola pemikiran manusia. Peranan akal pikir hanya digunakan untuk menganalisis sampai menyusun suatu sintesis baru. Bahkan alam semesta atau manusia dianggap sebagai mesin, yang tersusun dari beberapa komponen, dan bekerja sesuai dengan hukum-hukumnya.
Tokohnya adalah Henry Bergson (1859-1941). Pada mulanya ia belajar matematika dan fisika. Karena ia mempunyai kepandaian menganalisis, muncul masalah baru dalam pikirannya. Ia dihadapkan pada masalah metafisika yang tidak tampak dan tempatnya di bela­kang ilmu pengetahuan. Itulah yang menyebabkan ia terjun ke dalam bidang filsafat.
Pemikirannya, alam semesta ini merupakan suatu organisme yang kreatif, tetapi perkembangannya tidak sesuai dengan implikasi logis. Perkembangannya seperti meletup-letup dalam keadaan tidak sama sehingga melahirkan akibat-akibat dengan spektrum yang barn. Hanya ada beberapa yang berhasil dapat membentuk suatu organisme kreatif yang sesuai dengan hokum alam. Salah satunya adalah manusia dengan intelektualnya dan mengapa manusia dapat lolos dari seleksi alam. Dalam eksistensinya, manusia mempunyai daya. hidup (elan vital). Dengan adanya elan vital tersebut diharapkan manusia akan niampu melahirkan segala tindakannya.
Pemikiran filsafat Henry Bergson ini sebagai reaksi dari Positi­visme, Materialisme, Subjektivisme, dan Relativisme. Kemudian is mengupayakan, dengan melalui yang positif (ilmu) tersebut untuk menyalami yang mutlak dalam pengetahuan metafisis. Ia mem­pertahankan kebebasan dan kemerdekaan kehendak.11

K. John Dewey (1859-1952)
Ia lahir di Brulington, dan sekaligus menjadi guru filsafat. Pemikirannya, togas filsafat adalah memberikan pengarahan dalam tindakan hidup manusia. Untuk itu, filsafat tidak boleh berada dalam pemikiran metafisika yang tidak ada manfaatnya. Dengan demikian, filsafat harus berasaskan pada pengalaman, kemudian mengadakan penyelidikan dan mengolahnya secara kritis sehingga filsafat akan mampu memberikan suatu siftem norma-norma dan nilai-nilai.

L.     Fenomenologi
Fenomenologi berasal dari kata fenomen yang artinya gejala, yaitu suatu hal yang tidak nyata dan semua. Kebalikannya kenyataan juga dapat diartikan sebagai ungkapan kejadian yang dapat diamati lewat indra. Misalnya, penyakit flu gejalanya batuk, pilek. Dalam filsafat fenomenologi, arti di atas berbeda dengan yang dimaksud, yaitu bahwa suatu gejala tidak perlu harus diamati oleh indra, karena gejala juga dapat dilihat secara batiniah, clan tidak harus berupa kejadian-kejadian. Jadi, apa yang kelihatan dalam dirinya sendiri seperti apa adanya.
Dan yang lebih penting dalam filsafat fenomenologi sebagai cumber berpikir yang kritis. Pemikiran yang demikian besar penga­ruhnya di Eropa dan Amerika antara tahun 1920 hingga tahun 1945 dalam bidang ilmu pengetahuan positif Tokohnya: Edmund Husserl (1839-1939), dan pengikutnya Max Scheler (1874-1928).
Edmund Husserl (1839-1939) lahir di Wina. Ia belajar ilmu alam, ilmu falak, matematika, kemudian filsafat. Akhirnya menjadi guru besar di Halle, Gottingen, Freiburg.
Pemikirannya, bahwa objek/benda harus diberi kesempatan untuk berbicara, yaitu dengan cara deskriptif fenomenologis yang didukung oleh metode deduktif. Tujuannya adalah untuk melihat ha­kikat gejala-gejala secara intuitif, Sedangkan metode deduktif artinya mengkhayalkan gejala-gejala dalam berbagai macam yang berbeda. Sehingga akan terlihat batas invariable dalam situasi yang berbeda­beda. Sehingga akan muncul unsur yang tidak berubah-ubah yaitu hakikat. Inilah yang dicarinya dalam metode variasi eidetic.

M. Eksistensialisme
Kata eksistensialisme berasal dari kata eks = ke luar, dan sistensi atau sisto = berdiri, menempatkan. Secara umum berarti, manusia dalam ,keberadaannya itu sadar bahwa dirinya ada dan segala sesuatu keberadaannya ditentukan oleh akunya. Karena manusia selalu terlihat di sekelilingnya, sekaligus sebagai miliknya. Upaya untuk menjadi miliknya itu manusia harus berbuat menjadikan—merencanakan, yang berdasar pada pengalaman yang konkret.
Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang memandang berbagai gejala dengan berdasar pada eksistensinya. Artinya, bagai­mana manusia berada (bereksistensi) dalam dunia.
Pelopornya adalah Soren Kierkegaard (1813-1855), Martin Heidegger, J.P. Sartre, Karl Jaspers, Gabriel Marcel.
Pemikiran Soren Kierkegaard mengemukakan bahwa kebenaran itu tidak berada pada suatu sistem yang umum tetapi berada dalam eksistensi yang individu, yang konkret. Karma, eksistensi manusia penuh dengan dosa, hanya iman kepada Kristus sajalah yang dapat mengatasi perasaan bersalah karena dosa.

N. Neo-Thomisme
Pada pertengahan abad ke-19, di tengah-tengah gereja Katolik banyak penganut paham Thomisme, yaitu aliran yang mengikuti Paham Thomas Aquinas. Pada mulanya di kalangan gereja terdapat semacam keharusan untuk mempelajari ajaran tersebut. Kemudian, akhirnya menjadi suatu paham Thomisme, yaitu pertama, paham Yang menganggap bahwa ajaran Thomas sudah sempurna. Tugas kita adalah memberikan tafsir sesuai dengan keadaan zaman. Kedua, paham yang menganggap bahwa walaupun ajaran Thomas telah sempurna, tetapi masih terdapat hal-hal yang pada suatu saat belum dibahas. Oleh karena itu, sekarang perlu diadakan penyesuaian sehubungan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Ketiga, paham Yang menganggap bahwa ajaran Thomas harus diikuti, akan tetapi tidak boleh beranggapan bahwa ajarannya betul-betul sempurna.










BAB V
FILSAFAT DEWASA INI
Sekarang ini terdapat dua aliran pemikiran filsafat yang mem­punyai pengaruh besar, tetapi aliran-aliran ini belum dapat dikatakan sebagai aliran yang membuat sejarah. Hal ini terjadi karena aliran­aliran ini masih dianggap barn. Kedua aliran tersebut adalah Filsafat Analitis dan Strukturalis.

A.        Filsafat Analitis
Tokoh aliran iniadalah Ludwi Josef Johan Wittgenstein (1889- 1951), yang lahir di Wina, Aust ia. Ilmu yang ditekuninya adalah ilmu penerbangan yang mem ukan studi dasar matematika yang mendalam. Ia belajar kepada'Schopenhauer dan Gottlieb Frege. Se­telah menjadi ahli matematika ia mendalami filsafat matematika dan logika. Karyanya ditulis di penjara, ketika ia menjadi tentara dalam Perang Dunia II dan ditahan. Setelah keluar dari penjara, ia menjadi guru sekolah dasar, kemudian menjadi tukang kebun di sebuah biara.
Sumbangannya yang terbesar dalam filsafat adalah pemikirannya tentang pentingnya bahasa. Ia mencita-citakan suatu bahasa yang ideal, yang lengkap, formal dan dapat memberikan kemungkinan bagi penyelesaian masalah-masalah kefilsafatan.1
Filsafat analitis ini berpengaruh di Inggris dan Amerika sejak tahun 1950. Filsafat ini membahas analisis bahasa dan analisis konsep-konsep.

B.           Strukturalisme
Tokoh strukturalisme adalah J. Lacan yang lahir di Paris pada tahun 1901. Menurut pemikirannya, bahasa terdiri dari sejumlah terrain yang ditentukan oleh posisi-posisinya satu terhadap yang lain. Terrain tersebut digabungkan dengan aturan gramatika dan sintaksis. Bahasa membuka suatu lapangan posisi-posisi yang disistematisasi­kan dengan aturan-aturan. Menurut pendapatnya, kita barn menjadi pribadi apabila kita mengabdikan diri pada permainan bahasa.
Kalau orang tidak lagi mengabdikan diri pada aturan tersebut, is tidak lagi bersifat pribadi (misalnya seorang gila yang bicara dengan Neo-Logisme).
Filsafat Dewasa ini juga disebut Filsafat Barat Abad ke-20. Ciri perkembangan filsafat Barat abad kedua puluh ini adalah desentra­lisasi manusia. Subjek manusia tidak lagi dianggap sebagai pusat kenyataan. Desentralisasi manusia adalah perhatian khusus terha­dap bahasa sebagai subjek kenyataan kita sehingga pemikiran filsafat sekarang ini disebut logosentris.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar